BThemes

tes
News Update :

Biarkan Anak Menangis agar Tidak Manja

28 Agu 2010

Biasanya orang tua sangat menginginkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang secara baik dengan menjaganya secara maksimal. Namun, tanpa disadari ternyata pola protektif terhadap anak yang semula bertujuan baik itu malah bisa menjadi bumerang. Karena bila berlangsung secara kontinyu maka anak cenderung akan tidak bisa mandiri. Demikian dikatakan oleh Miftahul Jinan, penulis buku ”Alhamdulillah... Anakku Nakal” pada acara buka puasa bersama Taman Kelompok Bermain Bee Happy, Jambangan Kebon Agung Asri Surabaya, kemarin (27/8).

Dalam kesempatan tersebut, Jinan mengemukakan bahwa anak usia nol sampai 2 tahun merupakan masa-masa pembentukan karakter. Dalam hal ini peran ibu yang tulus dalam menyusui si buah hatinya akan menanamkan kepercayaan diri si anak. Sebaliknya, bila ibu ogah-ogahan dalam memberikan ASI-nya, maka nantinya sang anak cenderung akan menjadi anak yang penakut atau tidak Pe-De (percaya diri).

Selanjutnya, anak usia 2-4 tahun merupakan masa-masa anak meniru dan bersosialisasi. Di sinilah diperlukan kebijakan orang tua untuk konsisten dalam memberikan keteladanan yang baik bagi putra-putrinya. ’Kenakalan’ anak, menurut Jinan pada masa ini bukanlah sifat buruk, tetapi bagian dari cara anak belajar beradaptasi dan mengenali kebiasannya.
”Membiarkan anak belajar makan sendiri, meski belepotan dan menjadikannya semua acak-acakan, itu merupakan proses anak belajar. Dengan kebiasaan makan sendiri seperti itu, maka nantinya anak akan menjadi lebih mandiri daripada anak-anak yang terbiasa disuapi,” terang Miftahul Jinan di hadapan siswa dan wali murid Bee Happy.

Ditambahkan Jinan, anak-anak juga lebih cenderung meniru daripada mendengar. Apa saja yang dilihat dan didengar oleh anak akan terekam dalam otaknya m secara tak sadar akan menjadikan hal itu kebiasaan pada dirinya. ”Jangan heran bila anak-anak lebih suka meniru kebiasaan orang-orang di sekitarnya, daripada mendengar omelah yang bersifat seruan-seruan. Oleh karena itu, jangan sampai anak-anak kita lebih dekat dengan pembantu daripada dengan kita orang tuanya sendiri,” tambah Jinan.

Anak juga bisa belajar dengan situasi, oleh karenanya setiap orang tua diharapkan memberi contoh yang baik. Misalnya, bila si anak minta sesuatu kemudian dituruti maka dia akan melakukan hal itu. Untuk memberinya pengertian terhadap mana yang diperbolehkan dan yang tidak, maka orang tua wajib memberi ’pengertian’ dengan sesekali melarang sesuatu yang tidak tepat. Misalnya melarang minum es belebihan, makan snack yang membahayakan, dan lain-lain.

Bagaimana bila si anak menangis? Jinan menyarankan agar membiarkan, ”Toh, menangis itu juga menyehatkan bagi perkembangan si anak. Sebab, kalo dituruti terus anak bukannya malah mengerti, justru menggunakan sisi cengengnya itu sebagai senjata mengelabui atau menarik rasa ibah orang tuanya,” tandasnya. (arm)
Share this Article on :
 

© Copyright surabaya view 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.