BThemes

tes
News Update :

Moto GP News

Basketball News

Formula 1 News

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kisah Pejuang Pendidikan SM-3T Unesa; Namanya Rizki Sugiarto

29 Jan 2012

Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan tiba di tempat ini. Desa Ramuk, kecamatan Pinupahar. Tempat di mana seorang gadis bernama Rizki Sugiarto, salah seorang peserta SM-3T Unesa, ditugaskan. Namanya yang seperti nama laki-laki itulah yang telah 'mengecoh' kepala sub TK-SD Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dinas PPO) Sumba Timur, sehingga dia harus 'nrimo' ditugaskan di SD yang sangat-sangat terpencil. Sendirian. Jika Kasub TK-SD tahu bahwa dia sebenarnya berjenis kelamin perempuan, dia mungkin tidak akan ditugaskan di tempat seperti ini.

Saya menerima sms Rizki sekitar tiga minggu yang lalu, sehari setelah kami melakukan supervisi di semua kecamatan. Smsnya masuk sekitar pukul 21.00 WIB (pukul 22.00 WITA). 'Ibu, saya Rizki. Saya ditugaskan di SD Ramuk, kecamatan Pinupahar. Ibu, tempat saya sangat jauh dari kecamatan. Saya harus berjalan melintasi bukit dan menembus hutan serta menyeberangi banyak sungai, jika saya akan ke kecamatan, dengan jarak tempuh lebih dari 5 jam. Makanya ketika ada supervisi tempo hari, saya tidak bisa menemui ibu di kecamatan. Ibu, sebenarnya saya sangat berat meninggalkan kepala sekolah, guru-guru, dan murid-murid saya di sini. Tapi saya tidak yakin saya kuat tinggal di sini.'

Intinya, Rizki meminta saya untuk mengusulkan ke dinas PPO supaya dia dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan kecamatan Pinupahar. Tapi di sisi lain, dia merasa sangat berat meninggalkan sekolahnya. Saya merasakan ada pergumulan dalam batinnya. Antara tetap tinggal, dan keraguannya untuk bisa bertahan. Saya membesarkan hatinya: 'Rizki, kalau aku jadi kamu, maka aku akan terus berusaha bertahan, demi anak-anak, demi sekolah, dan demi masyarakat desa Ramuk yang sudah terlanjur berharap banyak kepadamu. Kamu bisa memberi banyak manfaat bagi mereka. Coba pertimbangkan itu....' Tapi malam itu, Rizki tetap pada keputusannya, minta dipindahkan.

Besok paginya, sms Rizki masuk lagi di ponsel saya. 'Ibu, kalau memang tidak memungkinkan, saya tidak apa-apa tidak dipindahkan. Saya akan terus berusaha bertahan di desa Ramuk.'

Berhari-hari setelah itu, saya tidak pernah lagi menerima sms Rizki. Namun beberapa temannya yang justeru bersms ke saya. Menyampaikan keprihatinan mereka pada kondisi Rizki dan tempat tinggalnya. Dia tinggal sendirian di aula sekolah. Tanpa listrik. Pernah suatu hari, Rizki mendapati gembok pintu aula tempatnya tinggal seperti dicongkel orang. Malam hari, beberapa kali dia mendengar seseorang atau 'sesuatu' mengetuk-ngetuk pintu. Karena prihatin dengan kondisi Rizki, hampir seminggu dua kali, teman-temannya yang ada di desa Umandudu (desa yang terletak di atas desa Ramuk, bisa ditempuh sekitar 2 jam dengan berjalan kaki), bergantian menemaninya.

Kondisi itulah yang membuat saya memutuskan untuk menjangkau tempat Rizki. Selain itu juga saya merasa tidak fair kalau saya tidak tahu di mana tempat tugas para peserta SM-3T. Ketika kita menugaskan seseorang, maka seharusnya kita tahu seperti apa tempat mereka bertugas tersebut. Seperti itu jugalah pendapat bapak Rektor.

Maka sejak kemarin, di tengah perjalanan menuju Pinupahar (setelah menyusur Katala Hamulingu dan Tabundung, dua kecamatan sebelum Pinupahar), saya meminta pak Camat Pinupahar untuk mengusahakan 5 buah motor yang bisa mengantarkan kami ke Ramuk, dan mungkin sampai ke Umandudu. Waktu itu saya belum bisa memastikan berapa yang akan berangkat ke sana. Dalam rombongan kami ada pak Rektor, mas Amin (sekretaris rektor), mas Rukin, mas Bimo (humas Dikti), mbak Arifah (PIH Dikbud), Andra (admin SM-3T yang selalu membantu saya), dan dua crew Trans TV (Peter dan Fariz), serta Joko (peserta SM-3T yang bertugas di Umandudu, yang khusus turun ke Waingapu untuk mendampingi kami). Tapi saya punya keyakinan pak Rektor akan berangkat, begitu juga mas Rukin. Mas Amin juga berangkat, karena dia harus selalu mendampingi pak Rektor. Joko juga pasti ikut, karena Umandudu adalah lokasinya. Paslah. Tapi malam itu, setibanya kami di Pinupahar dan berembug tentang siapa yang akan berangkat ke Ramuk dan Umandudu, pak Rektor meminta mas Bimo juga sebaiknya ikut. Maka pak camat harus mencarikan sebuah motor lagi malam itu juga. Trans TV dan PIH Dikbud memutuskan tidak berangkat. Mereka akan fokus membuat profil peserta SM-3T, siswa, sekolah, guru, kepala sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam di sekitar desa Tawui yang luar biasa indah, dengan pantai dan hamparan lembah dan bukit-bukitnya yang tinggi menjulang. Selepas makan malam di rumah pak Camat, ketika kami beristirahat di rumah panggung bermenara khas Sumba, orang-orang media itu bekerja lembur di mess peserta SM-3T yang sempit, membuat script, mewawancarai beberapa peserta, dan mengolah hasil rekaman mereka seharian tadi.

Kami berangkat dari Tawui, desa terdekat di Kecamatan Pinupahar, setelah pertemuan dengan camat, kepala desa, kepala sekolah, guru-guru, dan peserta SM-3T, dalam rangka pengisian instrumen monev serta menggali berbagai persoalan di lapangan. Pak Camat melepas kami dengan bekal makan siang yang sudah disiapkan oleh ibu camat. Dua mobil yang kami sewa mengantar kami menuju Lelunggi, desa yang masih bisa dijangkau dengan mobil. Kami diantar di bibir sungai, dan di seberang sungai yang cukup lebar itu, enam sepeda motor bersama pengendaranya sudah menunggu kami. Driver kami, mas Oscar, begitu mengkhawatirkan saya. Dia memaksa saya membawa payung yang ada di mobilnya karena dia pastikan saya akan memerlukan payung itu. Sebenarnya saya enggan membawanya, tapi saya tidak sampai hati menolaknya. Akhirnya Jokolah yang kuminta membawakan payung itu (tapi ternyata malah 'hilang' karena ketinggalan di suatu tempat ketika kami beristirahat di tengah perjalanan menuju desa Ramuk).

Itulah sungai pertama yang kami seberangi. Meskipun tidak terlalu dalam, namun arusnya cukup deras. Pak Rektor yang sudah ada di seberang berteriak ke Joko supaya menggandeng saya yang sudah 'nyemplung' ke sungai siap menyeberang. Pak Kepala Sekolah SD Okatana (Okatana, desa yang juga akan kami singgahi), juga langsung menangkap tangan saya, membantu mencapai Joko. Dan terjadilah momen 'yuyu kangkang menyeberangkan kleting kuning' itu (versi mas Rukin; kebetulan saya berjaket kuning, dan Joko berkalung kain Bali berwarna hijau).

Itu adalah sungai pertama. Setelah itu ada delapan sungai lagi yang harus kami 'langgar' (istilah orang Sumba). Selebihnya adalah jalan setapak, berbatu-batu terjal. Berlubang-lubang penuh kubangan, berlumpur, naik-turun, berkelok-kelok tajam, dan jurang-jurang menganga di sisi kiri-kanan. Saya melihat jurang-jurang yang hanya berjarak sekitar satu meter dari jalan setapak itu dengan 'gagah berani'. Saya tidak mau membayangkan sepeda motor yang saya tumpangi terpeleset lalu tergelincir masuk jurang. Saya mengandalkan pikiran positif, doa dan sholawat yang terus saya gumamkan, serta kelihaian petugas kecamatan mengendalikan motor yang dikendarainya. Tak terhitung berapa kali kami yang dibonceng harus turun karena motor tidak kuat naik saking curamnya. Suaranya meraung-raung mengingatkan saya pada tontonan tong setan di mana seseorang mengendarai sebuah motor berputar-putar dalam sebuah 'tong' besar. Namun itu hanyalah sebuah tontonan. Sedangkan yang terjadi saat ini adalah benar-benar sebuah kenyataan. Kami sedang berada dalam kondisi dimana kami semua berkendara dengan kegilaan yang melebihi tong setan itu... Lebih-lebih bila kami baru saja 'melanggar' sungai, maka semua pengendara akan bersama-sama menarik gas sekuat-kuatnya untuk memastikan air sungai tidak mengganggu mesin motor. Raungannya yang keras memekakkan telinga, memecahkan kesunyian di tengah hutan belantara.

Selepas dari SD Okatana yang bisa kami capai dalam waktu sekitar 30 menit, pada pukul 13.00, kami berangkat menuju Ramuk. Perjalanan menuju Ramuk jauh lebih menegangkan. Betul-betul menguras emosi dan adrenalin. Saya suka berpetualang, tapi saya sungguh tidak pernah membayangkan saya akan melakukan petualangan segila ini. Namun hati saya menangis sepanjang perjalanan itu. Teringat sms-sms Rizki dan teman-temannya. Joko sudah sering menyampaikan seperti apa lokasi tempat dia dan Rizki ditugaskan, namun saya tidak menduga, lokasi tersebut begitu sulitnya untuk dicapai. Dan Rizki, anak gadis itu, ada di sini. Di tengah hutan belantara. Sendirian. Tanpa listrik. Tanpa teman untuk berbagi. Sempat mengeluh dan minta pindah, namun secepat itu pula dia mencabut keputusannya, dan memastikan untuk tetap bertahan. Betapa luar biasanya anak itu......

Sekitar satu kilometer dari tempat Rizki, kami semua berhenti di sebuah mata air di pinggir jalan. Semua mencuci muka dengan air yang luar biasa segar dan jernih itu. Saya berwudhu. Seperti kemarin ketika di perjalanan menuju Pinupahar, di mana saya sholat di tengah hutan, di pinggir jalan, saya berniat melakukan sholat jama' takdim dhuhur ashar, namun segera saya urungkan karena tempat Rizki sudah dekat, artinya saya masih bisa mengejar waktu sholat.

Dan sampailah kami di SD Ramuk yang catnya sudah kusam serta bangunanya yang sangat sederhana. Rizki tinggal di aula SD itu. Pintu aula dalam keadaan tertutup ketika kami datang. Joko mengetuk pintu dan memanggil nama Rizki. Begitu pintu dibuka, muncullah tubuh mungil itu. Seperti tidak percaya dia menatap saya. Tangan saya langsung terkembang dan memeluknya. 'Kamu luar biasa, Ki. Kamu kuat, Ki...' Suaraku tertahan-tahan karena menahan tangis. 'Ya, ibu, saya harus kuat, saya harus kuat...' Matanya basah. Dan setengah berdesis dia berbisik di telinga saya. 'Tapi beri saya teman, ibu, saya butuh teman.....'. Saya mengangguk dan memastikan dia akan saya carikan teman. Sedetik kemudian saya melepaskan pelukan saya dan membiarkan pak Rektor, mas Rukin, mas Bimo, dan mas Amin, menyalami Rizki dengan tatapan haru sekaligus takjub. Dada saya semakin sesak menahan emosi, dan saya bilang ke Rizki, kalau saya sudah berwudhu dan mau numpang sholat. Anak manis itu segera menyilakan kami semua masuk. Pak rektor dan yang lain duduk di tikar di dalam aula itu. Rizki membawa saya ke 'kamar'nya, tentu saja ada di ruangan itu juga, hanya disekat dengan sebuah papan dan lemari plastik yang sudah koyak. Digelarnya sajadah untuk saya di tempat sholat yang sekaligus menjadi tempat tidurnya itu, di lantai kusam beralas tikar. Sebuah al-Quran yang mungkin menjadi temannya melewati malam-malamnya dalam kesendirian, tergeletak di dekat bantalnya. Meskipun semuanya serba terbatas, nampak sekali kalau Rizki menyukai kerapian.

Dan di atas sajadah Rizki, saya menyungkurkan kepala dan menangis sepuasnya. Tangis yang sudah saya tahan sejak tadi, pecah. Ketabahan perempuan muda itu mengoyak-ngoyak perasaan saya. Semangat pengabdiannya mencabik-cabik hati. Ketulusannya membuat emosi saya runtuh. Bahkan saya saja tidak yakin akan mampu melewati hari-hari saya dalam keadaan serba terbatas seperti ini. Tanpa teman. Dalam gelap yang hanya diterangi oleh sebuah pelita. Dalam ruangan besar yang jauh dari tetangga. Tidak ada TV, tape, radio, toko dan warung. Tidak ada alat transportasi apa pun, kecuali mau berjalan berjam-jam untuk mencapai tempat dimana ojek atau oto bisa dicapai.

Maka meluncurlah doa-doa saya siang itu khusus untuk Rizki. Saya mohonkan pada Allah agar ditambahkan kekuatan dan ketabahan baginya. Kemudahan untuknya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya. Kemaslahatan bagi anak-anak didiknya, guru-guru, sekolah, masyarakat, karena kehadirannya. Dan keberhasilannya dalam mencapai cita-cita mulianya, menjadi guru. Rizki Sugiarto, gadis itu, insyaallah akan menjadi guru hebat dan luar biasa yang sudah teruji oleh alam....

Pinupahar, 27 Januari 2012
* Penulis adalah dosen, guru besar, dan korlap SM-3T Universitas Negeri Surabaya

Ujian Ulang, Guru Sertifikasi Girang

25 Jan 2012

Perjuangan para guru yang tak lulus sertifikasi di rayon 114 Unesa membuahkan hasil. Setelah berkali-kali beraksi dan kini meminta dukungan PGRI, Dewan Pendidikan, Dinas Pendidikan, dan Ombudsman, mereka yang tak lulus PLPG 2011 lalu berkesempatan mengikuti ujian ulang.

Keputusan itu diperoleh setelah sepuluh perwakilan guru melakukan audiensi bersama lembaga pendukung dengan Unesa. Unesa selaku penyelenggara sertifikasi dengan sistem PLPG menjawab tuntutan para guru untuk ikut ujian sertifikasi ulang.

“Keputusannya, sebanyak 94 guru PLPG kita beri kesempatan ujian ulang. Mereka akan mengikuti ujian PLPG bersama peserta 2012. Jadi mereka bersaing bersama angkatan tahun ini. Keputusan ini yang akan kita usulkan ke Kemendikbud,” kata PR 1 Unesa, Prof Kisyani Laksono usai pertemuan sore tadi.

Unesa akan mengimplementasikan keputusan tersebut dengan memfasilitasi peserta PLPG yang tak lulus. Namun, kampus ini hanya sebatas mengusulkan solusi tersebut. Jika tawaran solusi itu tak dikehendaki Kemendikbud, para guru itu harus mau menerima.

Dikatakan Kisyani, ketidaklulusan guru PLPG secara nasional cenderung tinggi tahun 2011. Sekitar sepuluh persen. Itu terjadi di UM Malang, UPI Bandung sampai UNY Yogyakarta. Banyak guru yang protes karena tak lulus.

Meski demikian, guru peserta PLPG dan Unesa sepakat mencari solusi. Yang ditawarkan adalah meneruskan keputusan itu ke pusat. Sebanyak 94 guru akan mengikuti ujian ulang.

Surya

SNMPTN 2012 Sumbang 60 Persen Mahasiswa PTN

20 Jan 2012

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 akan menyumbang 60 persen dari jumlah seluruh mahasiswa yang masuk ke masing-masing perguruan tinggi negeri di Indonesia, kata Musliar Kasim Wakil Menteri Pendidikan Bidang Pendidikan.

"Saya apresiasi kepada seluruh rektor PTN yang mengikuti Peraturan Menteri nomor 34 tahun 2010 yang menetukan setiap PTN harus mengambil setiap mahasiswanya melalui jalur SNMPTN ini minimal 60 persen," kata Musliar seperti dilansir Antara, Jumat (20/1/2012).

Musliar menjelaskan sebesar 20 persen mahasiswa diseleksi melalui undangan dan ujian tertulis minimal 40 persen.

Dia juga menjelaskan bahwa tidak akan ada penerimaan mahasiswa PTN yang mendahului SNMPTN, tidak seperti SNMPTN pada tahun-tahun sebelumnya dimana beberapa PTN melakukan seleksi ujian masuk universitasnya secara mandri mendahului SNMPTN.

Selain itu Musliar juga menyatakan bahwa terdapat 30 ribu beasiswa bagi mahasiswa yang tidak mampu namun memiliki prestasi pendidikan yang tinggi.

"Sepanjang sudah lulus dan tidak mampu maka bisa memperoleh beasiswa sehingga tidak ada orang yang mampu secara akademik yang tidak bisa kuliah, ada 30 ribu beasiswa" ujar Musliar.

Beasiswa tersebut akan diberikan kepada mahasiswa setiap bulan untuk biaya hidup dengan besaran pada tahun-tahun sebelumnya sekitar 600 ribu per bulan dengan total sekitar 12 juta per mahasiswa setiap tahunnya.

"Jadi SPP dan biaya apa pun bagi mereka yang mendapat beasiswa itu tidak membayar sama sekali dan besarannya tergantung kepada masing-masing universitas," kata Musliar.

Program beasiswa Bidikmisi merupakan beasiswa yang disediakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagi para calon peserta Bidikmisi harus mendaftar ke laman http://bidikmisi.dikti.go.id dan yang dinyatakan memenuhi persyaratan akan mendapat Kode Akses Pendaftaran (KAP) dan Personal Identification Number (PIN).

Siswa yang mendapat KAP dan PIN dapat segera mendaftar serta mengisi biodata melalui laman http://undangan.snmptn.ac.id bagi mereka yang direkomendasikan kepala sekolah untuk ikut jalur undangan. Namun untuk yang mengikuti jalur ujian tertulis dapat mengisi biodata di alamat http://ujian.snmptn.ac.id tanpa harus membayar biaya ujian.

Jika calon peserta Bidikmisi tidak memenuhi persyaratan atau tidak diterima seleksi jalur undangan maka KAP dan PIN dapat digunakan kembali untuk mendaftar SNMPTN jalur ujian tertulis tanpa harus membayar ujian. Untuk keterangan lebih lanjut peserta dapat melihatnya di www.snmptn.ac.id. (ant/ipg)

suarasurabaya

Laskar Pelangi the Series Menanamkan Kebohongan

8 Jan 2012


Laskar Pelangi. Film ini sukses menarik publik karena banyak hal. Salah satunya adalah film ini menyuguhkan pengajaran nilai-nilai kejujuran lebih dari segala-galanya.

SCTV rupanya ingin mengulang "sukses" menserikan film "nirina-aming". Laskar Pelangi (Langi) The Series pun dibuat. Beberapa kali dipromosikan dan membuat saya tertarik untuk menontonnya.

Seri perdana diputar. Saya "menikmatinya" dengan kening berkerut. "Beginikah Laskar Pelangi." Saya menonton filmnya. Tetapi saya nyaris tak menemukan ruhnya. Kecuali sd muhammadiyah gantong yang reot dan anak-anak belitong yang polos.

Serial ini menampilkan anak-anak belitong asli. Lokasinya sama dengan lokasi pada film. Juga properti dan latar belakang budayanya, bahasa, pakaian dan banyak lainnya. Bu Muslimah diperankan artis yang sehari-hari main di FTV sctv. Ikranegara, gunawan, gito gilas juga turut serta memperkuat daya tarik.

Di edisi perdana, saya berharap Langi akan menjadi semacam "keluarga cemara." Tontonan keluarga yang sarat nilai-nilai pendidikan. Sayang saya tidak bias mengikutinya dengan rutin saban hari.

Saya baru nonton kembali Langi pada sabtu ini. Langi sudah memasuki episode 13. Episode yang kabarnya akan segera berakhir kaena sctv akan mengganinya dengan sinetrn baru: impian garuda.

Saya tersentak menyaksikan setiap adegan pada episode 13. Di episode ini, nilai-nilai kejujuran, amanah, tanggung jawab, menghormati guru, seperti rumput tumbuh di batu cadas. Nilai-nilai kebohongan dan ingkar justru subur bak jamur di musim hujan.

Ikal harus berbohong pada Kepsek karena lebih memilih berpihak pada cintanya ke Aling. Ikal jga lebih memilih merahasikan surat cintanya pada Bu Sum daripada menuruti nasihatnya. Ikal tidak patuh lagi pada bu guru yang begitu dihormatinya (apalagi dalam setting jaman itu). Ikal dan temannya lebih memilih menuruti kepentingan dirinya daripada melaksanakan amanah dan bertanggung jawab pada
tugasnya. Amanah tidak dilaksnakan. Diberi kepercayaan justru ingkar.

Bibit kebohongan sejatinya juga muncul di edisi perdana. Ketua kelas SD Muhammadiyah berbohong pada Bu Muslimah. Dia bahkan merekayasa kebohongan ketika Bu Muslimah menanyakan keberadaan Harun. Bu Muslimah bahkan mendapatkan kakus kosong meski dia mendengar suara gemericik air dari dalam seolah-olah Harun ada di dalam. Anak- anak Langi berhasil mempedaya Bu Mus. Merekayasa kebohongan.

Langi The Series seperti lahir dari ruang hampa. Ia hadir hanya membawa baju tapi menanggalkan ruhnya. Akhirnya Langi the series tidak hanya "mati" tetapi berbalik menjadi serial yang dipenuhi nilai-nilai negatif yang seharusnya tak diajarkan.

Pada episode 13, Langi mempertontnkan adegan yang menggelikan. Ketika Pak Cik (ayahanda/diperankan ikranegara) meninggal dunia, ada tiga kejanggalan serius.

1. Bu Mus mendapati Pak Cik meninggal dan apa yang diktakan Bu Muslimah. Sambil kaget dia bilang "astaghfirullah." Kalimat ini seolah "kelatahan" penulis sinetron "islam." Apapun peristiwanya, selalu "astaghfirullah" responnya. Seharusnya "innalillahi wainna ilaihi rojiuun."

2. Ada adega pembacaa surat yasin bersama sama di rumah pak cik. Bagi warga muhammadiyah, adegan ini menggelikan karena nggak pernah diajarkan oleh muhammadiyah.

3.Tetangisan di depan jenazah. Ini juga amat menggelikan sekaligus memprihatinkan. Muhammadiyaah nggak pernah mengajarkan paham seperti ini. Tidak usah dilihat dari sisi ideologi, dari setting sekolah dan budaya saja, adegan ini seolah-olah turun dari langit secara tiba-tiba. Sama sekali tidak kontekstual. Ini kesalahan serius dan fatal.


Yang juga lucu meski tak fatal adalah Pak Cik tidak langsung ditolong tapi dibiarkan tergeletak di meja, sambil menunggu para pemain lainnya, satu per satu, mengetahui.

Harapan mendapat tontonan bermutu kandas lagi. Seri sinetron ini bakal segera diganti Garuda Impian (atau Impian Garuda ya). Semoga sinetron penggantinya lebih baik.

Laskar Pelangi The Series sebenanya bisa diharapkan menjadi tontonan bagi keluarga yang menarik. Sayang jika di "ronde-ronde" awal sudah keddran seperti ini, seri ini memang layak diganti. Tentu saja ini portofolio kurang bagus bagi sctv dan khususnya bagi "laskar pelangi."

Jakarta, januari 2012
Habe Arifin
Revolusi Putih: mengganyang kebodohan, mencerdaskan bangsa

Ingin Anak Sukses di Sekolah? Ajarkan Rutinitas!

5 Jan 2012


Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa mengajari anak untuk memiliki rutinitas bisa membuatnya sukses di sekolah. Rutinitas di sini misalnya, anak memiliki waktu makan dan tidur yang teratur.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Prince's Trust, sebuah lembaga amal dari Inggris yang berdiri sejak 1976. Dalam penelitian tersebut mereka meneliti 2.136 anak muda berusia 16-25 tahun.

Dalam penelitian itu terungkap 10 murid yang gagal berprestasi di sekolah (setidaknya memiliki lima nilai C), tidak punya waktu tidur yang sama. Anak-anak muda dengan nilai sekolah lebih rendah juga tidak memiliki waktu makan yang rutin.

"Tidak adanya rutinitas dalam kehidupan anak muda bisa memberikan dampak yang mengecewakan. Tanpa adanya dukungan yang baik, remaja yang tidak punya arah ini bisa jadi remaja yang tidak terurus, tidak percaya diri, tidak berkualitas dan tak punya pekerjaan," ujar Chief Executive Prince's Trust Martina Milburn seperti dikutip Telegraph.

Penelitian Prince's Trust juga menemukan 1/4 dari anak-anak muda yang disurvei ternyata tidak pernah mengatur waktu tidur mereka. Hasil temuan penelitian itu pun sejalan dengan keluhan para guru di Inggris. Para guru mengeluh kini semakin banyak anak-anak yang terlihat terlalu lelah untuk berkonsentrasi saat belajar karena malam sebelumnya mereka menonton televisi atau main games di komputer.

Memang salah satu hal tersulit adalah mengajari anak untuk memiliki waktu tidur yang sama atau jam tidur teratur. Tapi bukan berarti Anda menyerah dan tak mencoba melakukannya.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti dikutip dari kidshealth:

1. Langkah pertama agar anak mau pergi tidur tanpa banyak keributan adalah dengan membuat rutinitas. Saat anak tidur di waktu yang sama setiap harinya, tubuh mereka akan beradaptasi dan mereka akan mengantuk dengan mudah.

2. Sangat penting untuk membatasi kegiatan yang menstimulasi mental dan fisiknya seperti menonton televisi, bermain komputer atau permainan yang melibatkan fisik. Usahakan anak-anak tidak melakukan kegiatan tersebut beberapa jam sebelum mereka tidur. Kegiatan yang lebih menenangkan seperti membaca, menggambar adalah pilihan yang lebih baik.

3. Salah satu cara membuat anak mood untuk pergi tidur adalah dengan membacakan mereka cerita atau memperdengarkan musik yang lembut. Kegiatan ini selain menenangkannya, juga membuat anak terbiasa di otak mereka kalau dengan melakukan aktivitas tersebut artinya sudah waktunya tidur.

4. Pastikan anak merasa nyaman sepanjang malam, misalnya dengan meletakkan mainan favoritnya di tempat tidur atau benda-benda lainnya yang ia sukai.

5. Pakaian yang dikenakan anak selama tidur juga harus nyaman, jangan terlalu ketat, panas dan tipis.

6. Begitu anak sudah berada di tempat tidurnya dan terlihat mulai mengantuk, tinggalkan kamarnya. Biarkan anak belajar untuk tertidur sendiri tanpa bergantung pada kehadiran orang tuanya.(eny/eya)

wolipop.com

Tanamkan Optimis di Awal Tahun Jauhkan Stroke & Serangan Jantung

3 Jan 2012


Jika mengalami banyak kegagalan di tahun sebelumnya, segeralah lupakan dan tatap masa depan dengan optimisme. Tak hanya membuat pikiran menjadi lebih tenang, sikap optimistis terbukti menjauhkan risiko stroke dan sakit jantung.

Kebimbangan sering datang di awal tahun karena harapan-harapan baru sudah harus mulai diperjuangan, sementara bayang-bayang kegagalan di tahun sebelumnya belum benar-benar bisa dilupakan. Karena itulah, beberapa orang mengawali tahun baru dengan pesimistis.

Sikap pesimistis merupakan sikap negatif yang akan sangat menyita pikiran, sehingga dapat memicu stres. Bukan cuma berdampak pada kesehatan psikologis, stres juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik terutama berkaitan dengan fungsi jantung dan pembuluh darah.

Untuk mengatasinya, sikap pesimistis harus dibuang jauh-jauh dan secara perlahan diganti dengan sikap optimistis. Betapapun sulitnya target dan resolusi yang ditetapkan untuk setahun ke depan, pikiran harus selalu menyikapinya dengan cara yang positif agar tidak stres.

Sebuah penelitian di University of Michigan pernah mengungkap, sikap optimistis bisa menjauhkan seseorang dari risiko stroke baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak. Tiap peningkatan satu derajat optimisme, risiko stroke berkurang 0,9 kali.

"Penelitian menunjukkan optimisme memegang peran penting dalam melindungi orang dewasa dari risiko stroke," kata Eric Kim, ilmuwan yang melakukan penelitian tersebut dan melaporkan hasilnya di jurnal Stroke seperti dikutip dari CBC News, Selasa (3/1/2012).

Sementara itu penelitian lain di Duke University membuktikan, pribadi yang selalu optimistis memiliki risiko serangan jantung 30 persen lebih rendah dibanding orang pesimistis. Dengan sendirinya, orang yang optimistis memiliki peluang lebih besar untuk berumur panjang.

(up/fat)

detiksurabaya

Lulusan Unesa Siap Berkontribusi Positif

4 Okt 2011

"Wisudawan Unesa Siap Mendukung Pembangunan Karakter Bangsa" Itulah tema yang diusung dalam Wisuda ke-72. Sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Unesa memiliki tanggung jawab besar dalam mengemban amanat untuk mencetak lulusan yang berkarakter dan berkualitas baik sebagai tenaga kependidikan maupun non kependidikan. Dengan segala upaya untuk senantiasa meningkatkan kualitas lulusan, diharapkan Alumni Unesa mampu memberikan konstribusi terhadap pembangunan bangsa.
Dengan moto "Growing with Character", Unesa berupaya senantiasa mampu meluluskan mahasiswa yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkhlak mulia, sebab pintar saja tidak cukup. Butuh sinergi di antara keduanya. Wisuda yang bertempat di GOR Bima Unesa kampus Unesa Lidah Wetan ini dilaksanakan selama dua hari (1-2/10) dibagi dalam tiga gelombang hari Sabtu dua gelombang Minggu satu gelombang.

Jumlah Wisudawan ke-72 ini diikuti 2.131 wisudawan dari 7 fakultas dan 1 Program Pascasarjana, yakni Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), Fakultas Ekonomi (FE) dan Program Pascasarjana (PPs),

Sesuai dengan tema di atas, lulusan Unesa diharapkan bisa mendorong peningkatan karakter bangsa. Saat kembali ke masyarakat, mereka harus sudah siap dan dapat menjadi teladan bagi lingkungannya dimana mereka berada, baik dalam hal keilmuan maupun tingkah lakunya. (Humas Unesa)



Puluhan Anak di Jatim akan Belajar di AS

18 Jun 2011


Sebanyak 17 anak peserta program Youth Exchange and Study (YES) berkumpul di kediaman Konsul Jenderal Amerika Serikat, Kristen F Bauer di Jalan Untung Suropati Surabaya.

Tujuannya untuk sharing tentang tempat belajar yang akan ditempati selama 11 bulan. Mereka berkumpul untuk minum teh dan berdiskusi bersama sebelum berangkat ke negeri Paman Sam Agustus mendatang.

Setelah melakukan wawancara visa, sekitar pukul 10.00 WIB rombongan tiba di lokasi. Dengan menggunakan pakaian batik, mereka masuk ke dalam dan langsung disambut oleh Krist.

"Hello Everybody...," sapa Krist kepada peserta kunjungan.

Para peserta segera diarahkan ke meja makan yang tersedia berbagai macam hidangan. Mulai cake, donat, kripik apel, teh hangat dan air putih.

Setelah mencicipi berbagai hidangan, kemudian rombongan diajak berdiskusi bagaimana kondisi tempat mereka belajar selama 11 bulan di Amerika Serikat (AS). "Kalian boleh tanya apa saja tentang Amerika, kami akan jawab semua pertanyaan kalian," ujar Krist kepada para rombongan.

Dari pantauan detiksurabaya.com, terlihat para siswa-siswi tersebut antusias untuk bertanya. Tak sedikit gelak tawa yang terlontar di sela-sela tanya jawab. "Saya senang sekali setelah dijelasin tadi, saya jadi gak sabar berangkat ke Amrik," ujar Didin Dwi Novianto, pelajar asal Mojokerto kepada wartawan.

Setelah acara usai, Krist menjelaskan kepada wartawan bahwa kegiatan seperti ini telah dimulai tahun 2003 lalu. Sebanyak 400 pelajar sekolah umum maupun pesantren dari seluruh Indonesia telah mengikuti program ini.

"Kegiatan ini berguna untuk Indonesia dan Amerika, dimana kita bisa saling belajar satu sama lain," terangnya.

Krist menambahkan mereka akan menemukan berbagai keunikan di AS, salah satunya komunitas AMISH yakni orang-orang yang membatasi diri dengan penggunaan teknologi modern seperti telepon dan mobil. "Mereka nanti akan bertemu dengan kelompok AMISH yang menunjukkan gaya 1800-an," tambahnya.

Acara kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta diskusi. Nantinya peserta YES yang akan berangkat sebanyak 70 anak. Selain Indonesia, beberapa negara yang juga mendapat beasiswa serupa adalah Mesir, Malaysia, Filiphina, Turki, India, Saudi Arabia, Ghana dan Thailand. (fat/fat)

Siami Kelelahan, Batal Bertemu Pimpinan MPR

15 Jun 2011


Siang ini pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) direncanakan bertemu dengan Siami dan anaknya, Alif, yang mengungkap kasus mencontek massal di SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya. Namun pertemuan batal digelar karena Siami kelelahan.

"Ditunda karena Ibu Siami kelelahan," ujar Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin, dalam pesan singkat kepada detikcom, Rabu (15/6/2011).

Menurut staf biro humas MPR, kemungkinan pertemuan akan dijadwalkan kembali pada Kamis (16/6) besok. Namun jadwalnya masih tentatif alias belum pasti.

"Masih tentatif karena belum tahu agenda MPR dan agenda Ibu Siami," kata staf biro humas MPR tersebut.

Kemarin, Lukman mengatakan, MPR prihatin dengan kasus yang dialami Siami dan keluarganya setelah mengungkap kasus kecurangan kala ujian nasional (UN) 2011 di SDN Gadel II. Sebab Siami dan keluarganya harus meninggalkan rumahnya untuk mengungsi demi menghindari kemarahan warga.

Warga menuding Siami tidak punya hati karena akibat kejujurannya mengungkap mencontek massal. Kepala sekolah dan dua guru SDN Gadel II/577 Tandes telah diberi sanksi.

MPR ingin mengapresiasi tindakan yang dilakukan oleh orang tua Alif itu. Menurut Lukman, tindakan Siami seharusnya diapresiasi, bukan malah dikucilkan.

"Kita ingin mengapresiasi dia sebagai Ibu Kejujuran. Kalau orang jujur dikucilkan, bangsa ini tidak berkarakter dan implikasi nilai Pancasila semakin bangkrut," kata Lukman.

Sementara itu Mendiknas M Nuh mengatakan, tidak ada indikasi mencontek massal di SND Gadel II. Hal itu terlihat dari pola jawaban peserta ujian di SD tersebut yang tidak identik. Karena kesimpulan penyelidikan menyebut tidak ada contek massal, maka tidak akan digelar UN ulang. Nuh pun menyatakan jika ada guru maupun murid yang bersalah tentu akan diberi sanksi. (detiksurabaya)

Kacau, Nilai UN 26 Siswa Surabaya Raib

16 Mei 2011


Pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) 2011 tingkat SMA tingkat SMA/SMK yang dilakukan serempak hari ini, Senin (16/5) menuai masalah. Sebanyak 26 siswa nilainya raib.

Untuk di SMKN 5 Surabaya saja misalnya, 21 siswa sekolah itu tercatat mengikuti semua tahapan UN, ironisnya ketika pengumuman hasil nilainya tertulis nol koma nol (0,0).

“Ini masalah besar. Ini soal teknis yang seharusnya tidak perlu muncul, tiap alur kegiatan UN kan ada berita acaranya jadi secepatnya harus diselidiki dan diusut,” kata Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Prof Zainuddin Maliki saat dihubungi Senin (16/5). Dia menyatakan seluruh pihak penyelenggaran UN harus bertanggung jawab terhadap raibnya nilai 26 siswa di Surabaya. Dispendik perlu untuk menelusuri penyebab hilangnya nilai siswa tersebut. Ia menyesalkan penyelenggaraan UN yang berskala nasional memiliki masalah nilai siswa yang hilang.

Kasus tersebut dinilai sangat menganggu siswa karena siswa sangat berharap untuk bisa mengetahui kelulusannya pada hari ini.“Kalau ada satu saja yang hilang itu artinya sudah tidak beres, lah ini malah ada sampai 26 siswa di Surabaya yang nilainya nol,” katanya.

Ia menduga, arsip nilai siswa tersebut tercecer entah kemana. Yang jelas, kata dia, pihak Dispendik Kabupaten maupun Provinsi diharapkan untuk bertanggung jawab atas hilangnya nilai siswa tersebut. Pasalnya siswa akan merasa sangat terpukul dan kecewa karena merasa mengikuti UN namun mereka tidak mendapatkan nilai.

Abdul Rofiq, Kepala SMKN 5 Surabaya mengatakan, “Kami meminta untuk dilakukan revisi karena kelulusan ini sangat penting. Siswa lulusan kami butuh bekerja sehinga butuh lulus,” katanya. Ia mengaku heran mengapa nilai anak didiknya tidak masuk. Padahal seluruh siswanya mengikuti seluruh tahapan pelaksanaan UN.

Rofiq mencontohkan, diantara siswa yang nilainya kosong adalah Dewi Aisyah. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, nilai siswi ini 00,00. Selain Dewi masih banyak lagi siswa yang lain. Pun demikian dengan nilai UN Mohammad Yusuf juga ditemukan dalam keadaan tak sesuai. Nilai Bahasa Indonesia di UN tertulis 04,00.“Kami heran mengapa nilainya kosong atau tidak sesuai, padahal siswa kami dapat nilai 07,00 tetapi tertulis 04,00,” jelasnya.

Seperti diketahui, SMKN 5 adalah sekolah dengan masa studi empat tahun. Siswa yang nilainya tidak keluar sebenarnya sudah menempuh UN pada tahun lalu. Pada tahun ini, kata dia, siswa hanya melakukan ujian praktik dan teori. Ujian tersebut masuk nilai sekolah. Namun untuk kelulusan, nilai UN harus digabung dengan nilai sekolah.“Padahal nilai UN sudah ada, dan sekarang ini tinggal menggabungkan saja nilai UN dengan nilai sekolah. Tapi kok malah tidak terdaftar, ini kan aneh,” katanya.

Sementara itu, Dispendik Kota Surabaya menyatakan kemungkinan nilai siswa yang nol karena tidak masuk dalam ketika dilakukan entry data. Kepala Dispendik Kota Surabaya, Sahudi menyatakan Dispendik menemukan 26 siswa yang mendapatkan nilai nol. Dari 26 siswa tersebut 23 diantaranya siswa SMK dan 3 siswa lainnya adalah siswa SMA swasta.

Sahudi menjelaskan, alur entry data penilaian untuk siswa SMA/SMK adalah pihak sekolah memasukkan data penilaian siswa di sekolahnya. Data tersebut kemudian dikirimkan ke Dispendik Kota Surabaya. Dari Dispendik Surabaya diteruskan ke Dispendik Jawa Timur. Kemudian dikembalikan lagi ke Dispendik Kota Surabaya, namun ternyata ada 26 siswa yang nilainya tidak masuk dalam ‘entry data’ alias bernilai nol.

Menurut Sahudi, ada beberapa penyebab nilai nol untuk siswa dalam UN, yakni diduga nilai UN tidak masuk bukan karena tidak dimasukkan, tapi hanya tidak masuk dalam data entry, sehingga mungkin saja nilai itu merupakan nilai susulan dan lupa dimasukkan.

Pernyataan serupa juga muncul dari Kepala Dispendik Jatim, Harun. Dia juga mengaku tidak mengetahui atas kasus nilai siswa yang hilang. “Kasus ini langsung saya koordinasikan dengan Puspendik di Jakarta. Mereka akan mengecek kasus ini,” ujarnya.

Restui Konvoi

Terkait konvoi, Dispendik Jatim menyatakan tidak melarang pelajar untuk melakukan aksi konvoi. Namun, Dispendik menghimbau kepada pelajar untuk melakukan konvoi secara tertib dan tidak menganggu ketertiban umum.

“Kami tidak melarang konvoi pelajar, namanya anak muda itu biasa. Tetapi pelajar kami himbau untuk tetap tertib dan tidak menganggu ketertiban,” kata Harun, Kepala Dispendik Jatim, Senin (16/5).

Dispendik juga meminta kepada siswa yang melakukan konvoi untuk tetap mematuhi peraturan lalu lintas. Kelulusan UN di Jatim sendiri dianggap cukup memuaskan. Rinciannya ketidaklulusan di Jatim untuk SMA hanya 0,25% atau setara 559 siswa. Sedangkan untuk SMK hanya 0,10% siswa yang tidak lulus atau sebanyak 150 siswa.

Harun berharap siswa tidak melakukan aksi corat-coret ketika merayakan kelulusan. Perlengkapan sekolah berupa seragam, tas, maupun buku sebaiknya diberikan kepada adik kelas ataupun siswa dari kalangan tidak mampu. Ia juga meminta kepada sekolah untuk mengontrol siswanya agar bisa tertib.

Terpisah, Kasubdit Kerma Ditbinmas Polda Jatim, AKBP Ria Damayanti menyatakan tahun ini perayaan kelulusan dengan melakukan konvoi mendapatkan restu dari Kapolda. Namun, pihak kepolisian menyatakan kepada Dispendik masing-masing Kabupaten/Kota untuk mendaftar sekolah yang siswanya akan melakukan konvoi.

“Sesuai arahan Pak Kapolda, silakan konvoi, tapi pihak sekolah lapor dulu. Kemudian kami akan mengawal dan mengamankan jalannya konvoi tersebut hingga selesai,” terangnya.

Polrestabes Surabaya sendiri menerjunkan 334 personil untuk melakukan pengawalan di sejumlah titik. Personil gabungan itu nantinya terdiri dari 201 personil dari polsek se-Surabaya dan 143 personil dari lantas Polrestabes Surabaya. Seluruh personil tersebut nantinya akan dibagi dalam beberapa Sub Rayon.

“Kami akan kawal pelajar yang merayakan kelulusan, rencananya kami akan menerjunkan 334 personil,” kata AKP Suparti, Kepala Bagian Humas Polrestabes Surabaya.

Nantinya personil yang dilibatkan untuk pengawalan konvoi akan dibekali buku tilang. Ini karena tidak menutup kemungkinan pelajar tidak mentaati peraturan berkendara seperti tidak memakai helm dan perlengkapan lainnya.

Sementar itu, beberapa jalan yang ‘diharamkan’ untuk dilalui konvoi adalah Jalan Raya Darmo, Urip Sumoharjo, Basuki Rahmad, Gubernur Suryo dan Panglima Sudirman. (surabayapost)

709 Siswa Tidak Lulus UN Jatim

15 Mei 2011

Tingkat kelulusan siswa SMA/SMK/MA/MAK di Jatim dinilai cukup memuaskan. Sukses itu ditunjukkan dengan prestasi Jatim di peringkat kelima secara nasional. Peringkat itu berdasar dari jumlah siswa tidak lulus yang sebanyak 709 siswa. Rincian ketidaklulusan itu untuk SMA hanya 0,25 persen atau setara 559 siswa dan SMK hanya 0,10 persen siswa dan jumlah kasat mata ketidak lulusan mencapai 150 siswa.

Sedangkan iumlah siswa SMA/MA yang mengikuti UN di Jatim mencapai 203.466 siswa, dan SMK UN diikuti oleh 150.277. Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim, Dr Harun MSi menyatakan, tingkat kelulusan di Jatim yang baik dicapai, karena kerjasama apik antara pengawas PTN, Kepolisian dan Dispendik masing-masing Kabupaten/Kota.

“Jumlah pelajar kita di Jatim sangat besar, kalau dibandingkan dengan provinsi lain yang peringkatnya diatas Jatim tentu tidak bisa. Peserta UN di Jatim terbesar kedua setelah Jabar, belum lagi ada kepulauannya,” kata Harun, dikantor Dispendik Jatim, Sabtu petang (14/5).

Empat provinsi diatas Jatim yang memiliki tingkat kelulusan tinggi adalah Bali, Sumatera Utara (Sumut), Maluku, dan Kalimantan Timur (Kaltim). Jatim merupakan satu-satunya provinsi di jawa yang berhasil menembus lima besar. Meski demikian, Ia tetap akan melakukan evaluasi terhadap tingkat kelulusan UN di masing-masing daerah.

Harun menjelaskan, siswa yang tidak lulus UN lebih dikarenakan tidak mengikuti ujian. Banyak siswa yang tidak ikut UN dikarenakan sakit, berhalangan tetap maupun mengundurkan diri. Dalam UN tahun ini, digunakan formulasi baru untuk menentukan kelulusan. Nilai sekolah memiliki porsi 40 persen sedangkan nilai UN berbobot 60 persen.

“Siswa yang tidak lulus itu dikarenakan tidak ikut ujian, nilai sekolahnya ada, tetapi nilai UN-nya tidak ada. Sehingga bukan karena siswanya bodoh, tetapi memang karena tidak ada nilai Un-nya jadi tidak lulus,” jelas Harun.

Disisi lain, sekolah SMA/SMK di Surabaya terlempar dari sekolah dengan nilai rataan terbaik di Jatim. Untuk SMK, SMK Taruna Tarik, Sidoarjo menduduki peringkat pertama. Disusul SMK Mahardika, Malang dan SMKN II Buduran Sidoarjo. Untuk SMA, diduduki oleh SMAN 1 Manyar Gresik yang disusul oleh SMAN 1 Bangil Pasuruan, SMAN 5 Malang, SMAN 1 Paciran dan SMAN 1 Sedayu, Gresik.

“Proses belajar mengajar yang baik itu adalah kuncinya, bukan lokasi sekolahnya apakah di Lamongan atau Surabaya. Tergantung bagaimana manajemen sekolahnya yang bisa bersinergi dengan guru, kepala sekolah dan wali murid,” katanya.

Ditemui terpisah, Gubernur Jatim Soekarwo menyatakan hasil UN di Jatim masuk kategori excellent jika dibandingkan dengan provinsi lain. Ia terlihat puas meskipun Jatim duduk di posisi lima besar secara nasional. Menurutnya, posisi itu bukan lah satu-satunya patokan.

“Hasilnya excellent, itu sama saja membandingkan tingkat olimpiade dengan tingkat kecamatan. Bali penduduknya hanya 2 juta sedangkan Jatim mencapai 37 juta dan memiliki dua kepulauan,” katanya.

Kelulusan Dihimbau Tertib

Mengantisipasi kelulusan yang akan diumumkan pada Senin (16/5) mendatang, Dispendik menghimbau siswa untuk tetap tertib. Pihak Dispendik berharap siswa tidak melakukan aksi konvoi yang sangat menganggu ketertiban umum.

“Kami meminta siswa untuk tertib dan melakukan hal-hal yang bisa bermanfaat. Senang dan bersyukur boleh, asal jangan menganggu ketertiban,” sahut Harun.

Harun menganggap siswa yang merayakan kelulusan tidak perlu melakukan aksi corat-coret. Perlengkapan sekolah berupa seragam, tas, maupun buku sebaiknya diberikan kepada adik kelas ataupun siswa dari kalangan tidak mampu. Ia juga meminta kepada sekolah untuk mengontrol siswanya agar bisa tertib.

“Tidak usah corat-coret seragamnya sebaiknya diberikan kepada anak yatim saja. Biar lebih bermanfaat,” katanya.

Ia juga menyatakan, cara pengumuman kelulusan diserahkan kepada pihak sekolah. Apakah melalui pos, lewat email, ataupun diumumkan di sekolah. Hal, itu, kata dia, merupakan kebijakan masing-masing sekolah. Yang jelas, pihaknya hanya menginginkan siswa tertib dan tidak menganggu ketertiban umum.

Perwakilan Binmas Polda Jatim, AKBP Ria mengatakan pihaknya sudah melakukan arahan kepada seluruh Polresta di Jatim agar melakukan pengawalan terhadap siswa yang ingin melakukan konvoi. Dispendik setempat diminta melakukan pendataan terhadap sekolah yang akan menggelar konvoi untuk mendapatkan pengawalan secara tertib dari pihak kepolisian.

“Intinya kami ingin ada kerjasama yang baik, konvoi diperbolehkan dan akan kami lakukan pengawalan,” katanya. (yop/sp)

Perlu Perubahan Pendidikan

14 Mei 2011


PEMBINA Ikatan Guru Indonesia Ahmad Rizali menyatakan kebangkitan mendasar bangsa ini harus dimulai dari pendidikan. "Jika potret pendidikan tetap jeblok seperti ini, bangsa ini sulit bisa bersaing secara global. Kita memerlukan perubahan secepatnya," tegas Ahmad Rizali dalam seminar "Potret Pendidikan Nasional" di Jakarta, Jumat (13 Mei 2011) pukul 15.30 WIB di Student Center Universitas Indonesia. Acara ini diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa UI.

Menurut Rizali, potret pendidikan Indonesia bisa dilihat dari survei-survei lembaga internasional tentang kemampuan dasar siswa Indonesia tentang sains, matematika, dan literasi. "Melihat hasil survei itu, potret pendidikan kita sangat terpuruk. Ironisnya, pemerintah kurang peduli terhadap hasil studi ini," tambah Ahmad Rizali.

Hasil survei PISA misalnya menyebutkan 76,6% siswa usia SMP dinyatakan "buta" matematika. Pembelajaran matematika tidak kontekstual, sehingga pembelajaran dilakukan hanya sebatas hapalan dan rutinitas. "Perubahan mendasar yang harus segera dilakukan adalah mengubah kurikulum pendidikan. Kurikulum sekarang tidak mengajarkan kemampuan bernalar. Ini menyedihkan," tegasnya.

Jantung pendidikan juga terletak pada kompetensi guru. "Perubahan selanjutnya adalah meningkatkan mutu dan profesionalisme guru. Harus ada korelasi antara sertifikasi guru dengan peningkatan kompetensinya," tuturnya.

Akses terhadap pendidikan juga menjadi masalah krusial. Pendidikan dikapling-kapling berdasarkan kasta-kasta sosial dan kasta ekonomi. Pendidikan bermutu untuk semua yang dicita-citakan para pendiri bangsa jauh panggang dari api.

"RSBI menjadi bukti rakyat tidak bisa mengakses pendidikan karena dihalang-halangi biaya yang mahal. Pendidikan telah menjadi sangat komersial dan menjadi komoditi yang diperdagangkan. Akhirnya sekolah-sekolah publik disekat-sekat dalam kasta pendidikan dan segregasi," terangnya.

UU Sisdiknas mengamanahkan pendidikan bermutu tanpa harus menghalangi siswa miskin mengaksesnya, tetapi pemerintah menerjemahkannya secara menyimpang.
"Perubahan pendidikan harus segera dilakukan dan tidak boleh ditunda-tunda lagi. Bangsa ini akan terus tertinggal jika akses pendidikan tetap tak terjamah oleh seluruh rakyat," ujarnya. (***)

Korupsi Pendidikan, Pendidikan Korupsi

3 Mei 2011


Dulu sekali, para pelaku di dunia pendidikan pasti akan berkata: “Apalah yang bisa dikorupsi dari pekerjaan seorang guru, kapur tulis?” Para sarjana pendidikan yang baru saja lulus dan mendapat titel SPd, juga senantiasa bertutur satir, gelar yang mereka dapatkan itu kepanjangannya “aslinya” adalah: sarjana penuh derita.

Tapi jangan salah, di balik sosok mereka yang tampak “alim” itu, sesungguhnya sudah tertanam bibit-bibit jiwa koruptor. Sejak zaman Orde Baru hingga era Reformasi saat ini, sudah cukup banyak cerita tentang praktik-praktik pungli di kalangan institusi pendidikan yang ada dalam naungan pemerintah. Hanya saja sedikit sekali yang terbukti hingga dapat diproses secara hukum.

Rohmatin Bonasir, jurnalis Indonesia yang bekerja untuk BBC berhasil mendapatkan potret buram dunia pendidikan Indonesia, awal Januari lalu. Dari hasil penelusurannya, ada tengara kuat bahwa dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), yang diberikan pemerintah setelah Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) ditiadakan, sangat rawan diselewengkan.

Tahun ini pemerintah mengalokasikan Rp 16,2 triliun untuk BOS sekolah umum SD dan SMP. Rencananya, dana BOS itu diserahkan langsung ke kas daerah dan tidak lagi melalui kementerian pendidikan nasional guna menghindari penyelewengan.

Tapi, menurut Ketua Serikat Guru Tangerang, Salman, penyaluran BOS langsung ke daerah tidak menjamin dana tidak diselewengkan karena selama ini penyimpangan justru banyak terjadi di tingkat daerah.

Salman memberikan contoh berikut. “Buku dan LKS (Lembar Kerja Siswa) masih ada pungutan-pungutan dari Dinas. Kalau kita beli ke penerbit umum, sekitar Rp 3.000- Rp 4.000, sedangkan LKS yang dijual oleh Kelompok Kerja Pengawas Kabupaten lebih mahal. Itu sekitar Rp 7.000-Rp 8.000,” kata Salman yang juga menjadi guru SDN Parahu 1, Tangerang, Provinsi Banten.

Penemuan Salman ini tidak hanya ada di satu atau dua sekolah. Guru SMPN 8 Tangerang, Fadiloes Bahar, yang merangkap sebagai Sekjen Koalisi Guru Banten, menuturkan bahwa penggunaan dana BOS di lapangan tidak sesuai dengan petunjuk pusat dan muncul pula pengeluaraan fiktif.

“Salah satu penggunaan dana BOS adalah untuk ujian tengah semester. Itu dananya diambilkan dari BOS, tetapi ketika pelaksanaan tidak ada ujian tengah semester,” jelasnya.

Salman dan Fadiloes Bahar menduga penyelewengan dan bahkan mungkin korupsi terjadi karena kepala sekolah menjadi penentu tunggal dalam penggunaan dana BOS di tingkat sekolah, meski dalam peraturannya harus melibatkan seluruh guru.

Beberapa kasus penyelewengan telah ditangani oleh kepolisian dan kejaksaan. Selain itu, BPK pernah menemukan penyimpangan dana BOS Rp 28 miliar. Persoalannya, menurut Kepala Monitoring Pelayanan Publik di ICW, Ade Irawan, kasus-kasus seperti ini sulit dituntaskan.

“Orang termasuk aparat penegak hukum menganggap kasus korupsi di pendidikan apalagi yang terjadi di sekolah ini sebagai kasus korupsi recehan sehingga tidak seksi untuk ditindak lanjuti,” jelas Ade Irawan.

Dampaknya, besar karena tidak diberlakukan efek jera. “Ketika si kepala sekolah korupsi dan hukumannya hanya mutasi, artinya dinas, pemerintah daerah ataupun kementerian pendidikan menyuruh kepala sekolah lain untuk korupsi,” pungkas Ade. (bbc)

ANGGARAN PENDIDIKAN
▪ Tahun 2010 Rp225 triliun
▪ Tahun 2011 Rp249 triliun
▪ 80% dari total anggaran untuk gaji guru
▪ Anggaran seharusnya tidak termasuk gaji

Sumber: BBC Indonesia

KESEJAHTERAAN GURU

▪ 80% dari Rp149 triliun untuk gaji guru
▪ Gaji pokok naik dua kali lipat bila sudah sertifikasi
▪ Ada tunjangan profesi dan insentif
▪ Kelulusan sertifikasi berdasarkan portofolio
▪ Jumlah guru negeri 2,7 juta

Pendaftaran SNMPTN Resmi Dibuka


Sebanyak 41 orang calon mahasiswa menjadi pendaftar hari pertama pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Lokal Surabaya dibuka sejak, Senin (2/5) kemarin.

“Mereka yang membeli PIN untuk akses ke laman www.snmptn.ac.id cukup banyak, tapi mereka yang mengisi biodata hingga Senin (2/5) malam tercatat 41 orang," kata Koordinator IT Panitia Lokal (Panlok) 50 Surabaya, Imam Siswanto, Selasa (3/5).

Didampingi Koordinator Humas Panlok 50 Surabaya, Prof Imam Mustofa MKes, Iman menjelaskan, pembelian PIN pada 2-9 Mei 2011 memang masih untuk angkatan 2009 dan 2010, tapi untuk angkatan 2011 pada 2-24 Mei 2011."Karena itu, saya kira waktunya masih lama dan pendaftar yang banyak biasanya memang dari angkatan baru (2011),” katanya.

Tapi, lanjut dia, SKL juga harus dilampiri dengan pas foto, tanda tangan kepala sekolah dan cap sekolah.

Ditanya target jumlah pendaftar SNMPTN 2011, ia menjelaskan ada kenaikan 15% dari tahun lalu yakni 35.000 peserta, sedangkan tahun berkisar 30.000 orang.

Menurut dia, pendaftaran secara online atau daring (dalam jaringan internet) akan ditutup pada 24 Mei pukul 16.00 dengan pembayaran bisa dilakukan lewat Bank Mandiri ataupun loket. "Khusus peserta yang ingin mengikuti SNMPTN jalur bidik misi (beasiswa pendidikan miskin berprestasi), maka ia harus mendaftar pada laman bidikmisi.dikti.go.id terlebih dulu," paparnya.

Untuk biaya yang harus dikeluarkan peserta, sebesar Rp150.000 untuk kelompok IPA atau IPS, Rp175.000 untuk kelompok IPC (IPA dan IPS), dan Rp150.000 untuk ujian keterampilan bagi calon mahasiswa program studi keolahragaan, kesenian, dan sejenisnya.

Ujian tulis SNMPTN dibagi menjadi dua kelompok, yaitu untuk peserta yang memiliki ijazah tahun 2009 dan 2010, dan yang kedua bagi peserta yang memiliki ijazah tahun 2011. Bidang studi yang diujikan meliputi tes potensi akademik, tes potensi bidang studi dasar, tes IPA, serta tes IPS. Ada delapan set soal untuk para calon lulusan tahun 2011, serta enam set untuk lulusan 2009 dan 2010. (surabayapost)

IGI: 10 Alasan Utama SBI Harus Dihentikan

9 Mar 2011

Ada sepuluh kelemahan utama yang menjadi alasan kuat bagi Kementrian Pendidikan Nasional untuk segera menghentikan program sekolah bertaraf Internasional (SBI). Mulai dari salah konsep hingga merusak bahasa dan mutu pendidikan, program SBI dianggap tidak cocok dan harus segera ditinggalkan.

Demikian dilontarkan Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma dalam Petisi Pendidikan tentang Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang dinilai sebagai program gagal. Petisi itu dipaparkan Ketua Umum IGI Satria Dharma di depan Komisi X DPR RI, Selasa (8/3/2011), untuk mendesak Komisi X segera menghentikan sementara seluruh program SBI.

"Program SBI itu salah konsep, buruk dalam pelaksanaannya dan 90 persen pasti gagal. Di luar negeri konsep ini gagal dan ditinggalkan," kata Satria tentang isi petisi tersebut.

Menurutnya, sepuluh kelemahan mendasar program SBI itu harus dievaluasi, diredefinisi, dan perlu dihentikan. Kelemahan pertama, kata Satria, program SBI jelas tidak didahului riset yang lengkap sehingga konsepnya sangat buruk.

"Bisa dibuktikan, bahwa tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, diperdalam dalam SBI," tegas Satria.

Kedua, SBI adalah program yang salah model. Kemdiknas membuat panduan model pelaksanaan untuk SBI baru (news developed), tetapi yang terjadi justru pengembangan pada sekolah-sekolah yang telah ada (existing school).

Ketiga, program SBI telah salah asumsi. Kemdiknas mengasumsikan, bahwa untuk dapat mengajar hard science dalam pengantar bahasa Inggris, seorang guru harus memiliki TOEFL> 500.

"Padahal, tidak ada hubungannya antara nilai TOEFL dengan kemampuan mengajar hard science dalam bahasa Inggris. TOEFL bukanlah ukuran kompetensi pedagogis," paparnya.

Merusak bahasa

Satria memaparkan, kelemahan keempat pada SBI adalah telah terjadi kekacauan dalam proses belajar-mengajar dan kegagalan didaktik. Menurutnya, guru tidak mungkin disulap dalam lima hari agar bisa mengajarkan materinya dalam bahasa Inggris. Akibatnya, banyak siswa SBI justru gagal dalam ujian nasional (UN) karena mereka tidak memahami materi bidang studinya.

"Itulah fakta keras yang menunjukkan bahwa program SBI ini telah menghancurkan best practice dan menurunkan mutu sekolah-sekolah terbaik yang dijadikan sekolah SBI," tambahnya.

Di sisi lain, hasil riset Hywel Coleman dari University of Leeds UK menunjukkan, bahwa penggunaana bahasa Inggris dalam proses belajar-mengajar telah merusak kompetensi berbahasa Indonesia siswa.

Sementara itu, kelemahan kelima dari SBI adalah penggunaan bahasa pengantar pendidikan yang salah konsep. Dengan label SBI, materi pelajaran harus diajarkan dalam bahasa Inggris, sementara di seluruh dunia seperti Jepang, China, Korea justru menggunakan bahasa nasionalnya, tetapi siswanya tetap berkualitas dunia.

"Kalau ingin fasih dalam berbahasa Inggris yang harus diperkuat itu bidang studi bahasa Inggris, bukan bahasa asing itu dijadikan bahasa pengantar pendidikan," tegas Satria.

Keenam, SBI dinilai telah menciptakan diskriminasi dan kastanisasi dalam pendidikan. Sementara itu, kelemahan ketujuh menegaskan, bahwa SBI juga telah menjadikan sekolah-sekolah publik menjadi sangat komersial.

"Komersialisasi pendidikan inilah yang kita tentang, karena hanya anak orang kaya yang bisa sekolah di SBI," tandas Satria.

SBI juga telah melanggar UU Sisdiknas. Karena menurut Satria, pada tingkat pendidikan dasar sekolah publik atau negeri itu wajib ditanggung pemerintah. Kenyataannya, dalam SBI peraturan ini tidak berlaku.

Kedelapan, SBI telah menyebabkan penyesatan pembelajaran. Penggunaan piranti media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD juga menyesatkan seolah karena tanpa itu semua sebuah sekolah tidak berkelas dunia.

"Program ini lebih mementingkan alat ketimbang proses. Padahal, pendidikan adalah lebih ke masalah proses ketimbang alat," katanya.

Kelemahan kesembilan, lanjut dia, SBI telah menyesatkan tujuan pendidikan. Kesalahan konseptual SBI terutama pada penekanannya terhadap segala hal yang bersifat akademik dengan menafikan segala hal yang nonakademik.

"Seolah tujuan pendidikan adalah untuk menjadikan siswa sebagai seorang yang cerdas akademik belaka, padahal pendidikan bertujuan mendidik manusia seutuhnya, termasuk mengembangkan potensi siswa di bidang seni, budaya, dan olahraga," ujar Satria.

Kelemahan terakhir, SBI adalah sebuah pembohongan publik. SBI telah memberikan persepsi yang keliru kepada orang tua, siswa, dan masyarakat karena SBI dianggap sebagai sekolah yang "akan" menjadi sekolah bertaraf Internasional dengan berbagai kelebihannya. Padahal, kata Satria, kemungkinan tersebut tidak akan dapat dicapai dan bahkan akan menghancurkan kualitas sekolah yang ada.

"Ini sama saja dengan menanam 'bom waktu'. Masyarakat merasa dibohongi dengan program ini dan pada akhirnya akan menuntut tanggung jawab pemerintah yang mengeluarkan program ini," kata Satria.

Relaunching Program Sagusala IGI, Acer Gandeng Telkomsel

25 Feb 2011


Program Satu Guru Satu Laptop atau yang dikenal dengan Sagusala, kemarin (24/2) di-relauncing di Resto Nine Surabaya. Salah satu program yang digagas oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) itu merupakan program penyediaan laptop khusus bagi guru yang dilengkapi dengan konten pembelajaran berbasis ICT.

Dalam kesempatan tersebut ditandatangani nota kesepahaman antara IGI, PT Gading Murni (selaku distributor ACER Indonesia Timur), dan Telkomsel yang meyediakan paket modem dan layanan internet.

Dalam sambutannya, Mario Laksmana dari ACER Indonesia mengatakan pihaknya menyediakan laptop khusus dengan kualitas sama dengan yang digunakan oleh kelas corporate di Amerika maupun Eropa. Jadi, jaminan keandalannya, baik dari segi spare part maupun layanan purna jual bisa dipertanggungjawabkan. Ini dilakukan ACER, karena guru merupakan salah satu agen perubahan untuk menjadikan bangsa Indonesia lebih baik di masa depan, melalui jalur pendidikan bermutu.

Pada kesempatan yang sama Jose Andrea dari PT Gading Murni menyampaikan bahwa, dalam program Sagusala ini, guru yang membeli laptop bukan hanya mendapatkan konten pembelajaran, tetapi juga memperoleh pelatihan bersertifikat yang diakui oleh Kemendiknas, sehingga dapat dimanfaatkan untuk portofolio bagi guru bersangkutan.

Tentang keunggulan program Sagusala lainnya, Manager Regional Account Management Telkomsel, Handoyo Hadi menuturkan, Telkomsel telah memberi support tersendiri berupa paket modem dan kartu internet yang terjangkau oleh para guru. Setiap pembelian laptop Sagusala, guru akan langsung mendapat modem Telkomflash seharga 700 ribu rupiah. Dan, untuk internetnya tersedia paket unlimited dengan Rp. 110 ribu per bulan.

Sementara itu, Andi M Yasin, Ketua Bidang Pengembangan Organisasi IGI mengucapkan terima kasih kepada ACER, Gading Murni, dan Telkomsel yang telah menyuport sepenuhnya program Sagusala. Dalam program ini nanti, IGI selaku penyedia konten pembelajaran berbasis ICT, juga akan memberi pelatihan kepada para guru yang mengikuti program Sagusala.

Hadir dalam kesempatan re-launching Sagusala kemarin antara lain para vendor dari wilayah Indonesia Timur, meliputi Surabaya, Malang, Jatim, Bali, Kalimantan, dan beberapa wilayah lainnya. Mereka hadir untuk turut menyukseskan program Sagusala kerjasama antara IGI, ACER, dan Telkomsel ini. (arm)

Teks Foto:
Dari kiri Handoyo Hadi, Jose Andrea, Andi M Yasin, dan Mario Laksmana berfoto bersama usai penandatanganan MOU.

Mendiknas Targetkan Semua BOS Cair Pertengahan Februari

7 Feb 2011


SURABAYA | Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) paket pertama 2011 ini ditargetkan bisa cair setidaknya pertengahan Februari.

M. NUH Menteri Pendidikan Nasional mengakui adanya keterlambatan dalam penyaluran dana BOS ke sekolah di sejumlah daerah. Meski demikian, NUH tidak mengetahui pasti penyebab keterlambatan itu.

“Saya nggak tahu. Semua sudah dilakukan, transfer, bentuk format, template sudah kita siapkan. Uangnya sudah ada, sudah ditransfer, bukti transfer dari Menteri Keuangan sudah ada,” katanya saat mengunjungi penerima beasiswa Bidik Misi di Surabaya, Minggu (06/02).

NUH mengatakan akan terus memonitor penyaluran dana BOS. Ia juga telah berkoordinasi dengan mnMenteri Dalam Negeri dan menginstruksikan agar dana BOS sudah dikirim pada akhir Januari ke semua kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kemendiknas juga akan mendorong kabupaten/kota bisa secepatnya mengeluarkan dana BOS yang telah dikirim.

Bagaimanapun, kabupaten/kota yang bertanggungjawab supaya dana BOS tersebut sampai ke sekolah-sekolah. “Mereka (kabupaten/kota, red) yang bertanggungjawab. Uang sudah dikasih. Masak ngasihkan saja kesulitan,” tukasnya.

Menurut NUH, tahapan proses pencairan dana BOS yang dijalani Pemerintah kabupaten/kota memang berbeda-beda. Ada yang sudah proses akhir pencairan, tinggal penyaluran. Ada pula yang masih dalam proses penyusunan. Meski begitu, seharusnya ketika APBD disahkan, proses pencairan tidak lagi terkendala.

Namun demikian, pertengahan Februari 2011 ini diharapkan seluruh dana BOS paket pertama bisa cair. Biasanya, keterlambatan memang hanya terjadi pada paket pertama yaitu triwulan pertama awal tahun. Pada 2011 ini, Pemerintah menganggarkan Rp 16,8 trilyun dialokasikan untuk dana BOS setiap 3 bulan.(SUARASURABAYA)

TEKS FOTO: Puput Winardi (kerudung biru) mahasiswi D3 jurusan Desain Grafis Unesa berbincang dengan M. NUH Menteri Pendidikan Nasional (baju putih) di rumah PUPUT Jl. Ngagel Timur 12 A Surabaya, Minggu (06/02). Didampingi MUCHLAS SAMANI Rektor Unesa (paling kiri), NUH mengunjungi penerima beasiswa program Bidik Misi Unesa. Kunjungan ini dilakukan untuk memverifikasi Bidik Misi agar tepat sasaran.

Peran Penting CSR XL dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia

31 Des 2010


”Program CSR XL untuk pendidikan, semuanya berkesinambungan. Semakin banyak sekolah yang terjangkau, semakin banyak pula guru dan siswa yang turut merasakan kemajuan pendidikan agar tak tertinggal dari negara lain.”

Dunia pendidikan di Indonesia, belakangan ini menyita perhatian masyarakat. Upaya-upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan tingkat kesejahteraan guru melalui program sertifikasi, serta sekolah gratis lewat program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara signifikat telah menyerap habis hampir jatah 20% APBN. Namun demikian fakta menujukkan, bahwa belum seluruh guru dan siswa di negeri ini mampu menikmati anggaran pendidikan tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan peran serta pihak swasta untuk turut menyukseskan program pengentasan masyarakat dari kebodohan melalui wajib belajar 9 tahun yang telah dicanangkan pemerintah.

Selama ini, peran swasta dalam membangun sektor pendidikan ini banyak disalurkan oleh perusahaan-perusahaan melalui dana CSR-nya. Beberapa perusahaan telekominikasi yang dalam dasawarsa terakhir ini begitu menikmati hasil keuntungan usahanya tak lupa juga mengalokasikan tak kurang dari 2 persen keuntungannya untuk dunia pendidikan.

Salah satu perusahaan telekomunikasi yang cukup serius memperhatikan peningkatan mutu pendidikan melalui dana CSR-nya adalah PT XL Axiata Tbk, yang mengalokasikan sekitar 80% dananya ke dalam program Indonesia Berprestasi dan sektor edukasi lainnya. Program ini diperuntukkan bagi semua tingkatan pendidikan di Indonesia dengan variasi dan bentuk bantuan yang disesuaikan.

Berapa pun jumlahnya, pastilah akan sangat berpengaruh positif terhadap peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan di seluruh penjuru tanah air. Sebab, kita semua tahu bahwa alokasi 20% dana APBN untuk pendidikan lebih banyak tersedot untuk gaji guru dan biaya operasional siswa, jadi tak mungkin lagi bisa berharap banyak kepada pemerintah semata.

Selama ini, pemerintah juga terus berupaya menggandeng pihak swasta untuk mendorong guru dan siswa lebih beprestasi dengan diberi bantuan-bantuan bermanfaat. Seperti bantuan komputer yang disalurkan XL lewat program Komputer untuk Sekolah (KUS). Ini artinya pihak swasta sendiri juga selalu berperan aktif melalu pemberian komputer dan pelatihan TIK untuk sekolah dan gurunya. Melalui program riil seperti ini pastilah manfaat yang diperolehnya juga langsung bisa dirasakan sampai kepada siswa.

Program nyata lainnya yang bersumber dari dana CSR XL juga dimanfaatkan untuk membuka wawasan masyarakat umum melalui pembentukan taman bacaan, perpustakaan keliling, dan yang paling penting adalah kampanye internet sehat.

Perlu Kolaborasi

Bantuan komputer untuk sekolah yang dilengkapi dengan koneksi internet sudah barang tentu langsung mampu mengaplikasi pendidikan berbasis IT bagi siswa dan guru. Bila selama ini siswa dan sekolah terpencil tertinggal dalam hal penyerapan informasi pendidikan mutakhir, kini hal itu tidak lagi terjadi. Dengan adanya internet, semua materi pendidikan yang telah distandarisasi dari Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tak lagi timpang antara sekolah satu dengan sekolah lainnya. Kemampuan guru pun selalu terasah dengan suntikan-suntikan pengetahuan baru dalam semua bidang pelajaran yang bisa diperoleh dari searching di internet.

Barangkali, ke depan XL bisa melakukan kolaborasi dengan organisi guru yang independen dan memiliki kepedulian dalam peningkatan mutu guru, seperti dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI). IGI selama ini juga memiliki program serupa, seperti Sagusala (Satu Guru Satu Laptop), maupun EduTech yang menyediakan komputer jinjing lengkap dengan konten pendidikannya.

Dengan mengawinkan program CSR XL dengan organiasi keguruan yang profesional, hasilnya pastilah program-program riil yang langsung bisa dilihat hasilnya. Artinya, CSR XL tak perlu lagi melakukan pekerjaan rumit mendetail, namun cukup memantau kegiatan dari kejuahan dengan hasil maksimal.

Dan, itulah pentingnya program CSR XL untuk pendidikan yang semuanya berkesinambungan. Semakin banyak sekolah yang terjangkau, semakin banyak pula guru dan siswa yang turut merasakan kemajuan pendidikan agar tak tertinggal dari negara lain. (arohman)

Teks foto:
Suasana in house training para guru SMKN 1 Surabaya. Mereka belajar membuat aplikasi dan materi presentasi pembelajaran menggunakan Power Point dengan tutor dari Ikatan Guru Indonesia (IGI), Jawa Timur.

2.150 Siswa SD-SMP di Jatim dapat Bantuan Dana Pendidikan

16 Des 2010


Tingkat siswa terancam putus sekolah di Jawa Timur masih cukup tinggi. Untuk mencegah putusnya anak sekolah, selain pemerintah mengeluarkan dana BOS, juga dibutuhkan peran serta dunia usaha dalam memberikan bantuan pendidikan.

Dari data yang dihimpun, dari 925 ribu anak usia 7-12 tahun, 14 persennya terancam putus sekolah.

"Yang paling banyak anak putus sekolah itu dari kelas 4 SD ke atas," Ketua Yayasan Lembaga GNOTA, Jeannette Sudjunadi, kepada wartawan di sela-sela acara Program Berbagi untuk Maju, Frisian Flag Indonesia dan Matahari Food Business Salurkan Dana Bantuan Pendidikan, di Hotel Majapahit, Jalan Tunjungan, Kamis (16/12/2010).

Seperti yang dilakukan Frisian Flag Indonesia dengan Matahari Food Business, yang menyalurkan bantuan 'Berbagai untuk Maju' bagi pelajar SD dan SMP.

Di Jawa Timur, sebanyak 2.150 siswa terdiri dari 987 siswa SD dan 1.163 siswa SMP yang terancam putus sekolah, mendapatkan bantuan pendidikan senilai total Rp 495.495.495.

"Jangan sampai anak itu putus sekolah. Karena 20 tahun lagi, mereka adalah penerus
bangsa. Kita sebagai GNOTA hanya bisa berusaha mencegah agar tidak sampai putus sekolah," tuturnya.

Menurutnya, jika anak itu diajak kembali ke sekolah, maka akan mengalami kendala
seperti faktor lingkunnya yang mebuat anak itu enggan bersekolah.

"Kami harapkan partisipasi masyarakat untuk membantu anak-anak, agar anak-anak tidak sampai putus sekolah," jelasnya.

Sementara itu, program bantuan 'Berbagi untuk maju' di Jatim adalah yang keempat
kalinya. Sebelumnya, sejak Agustus lalu, FFI dan Matahari Food Business telah
menyalurkan dana bantuan tahap pertama, kedua, ketiga senilai Rp 1.384.456.796 untuk 5.456 siswa SD dan 1.184 siswa SMP yang terancam putus sekolah di Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

"Kami sangat menghargai dan berterimakasih atas dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap program 'Berbagi Untuk Maju' yang diluncurkan sejak Agustus lalu," kata Director Merchandising & Marketing Matahari Food Business PT Matahari Putra Prima, Meshyara Kanjaya.

Target dana yang digalang untuk membiayai sekitar 12.062 siswa yang terdiri dari 8.530 murid SD dan 3.532 murid SMP dari sekolah-sekolah yang berada dalam data GNOTA dan pemerintah adalah sebesar Rp 2.600.196.000.
(bdh/bdh/detisurabaya)

RSBI SD Swasta Terus Bertambah

4 Sep 2010

Meski sudah berada di bawah pengawasan ketat Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), penyelenggaraan kelas RSBI ternyata masih diminati sekolah swasta. Tahun ini, satu lagi sekolah dasar (SD) di Surabaya yang dipastikan mendapat izin mendirikan kelas Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI).

Kepastian ini didapat setelah surat keputusan (SK) penunjukan SD Khadijah Wonokromo Surabaya dipatikan turun bulan ini. "Insyaallah bulan ini SK penetapan kelas RSBI turun," kata kepala SD Khadijah Wonokromo Surabaya, Abdullah Sani, Kamis (2/9).

Untuk membuka kelas RSBI, Kemendiknas yang mensyaratkan sekolah dasar harus memiliki SDM guru 10 persen S2/S3 dari total guru yang ada. Sedangkan kepala SD minimal harus S2, terakreditasi A (95), berbasis TI, dan para guru harus menguasai bahasa Inggris aktif.

Meski terus bertambah, keberadaan RSBI masih kerap dipertanyakan. Beberapa pihak menuding keberadaan RSBI hanya akan membuat jurang perbedaan yang semakin lebar antara siswa kaya dan siswa miskin. “RSBI itu elitis, hanya untuk masyarakat kaya, sedangkan yang miskin baik pintar atau tidak, sulit untuk masuk karena biayanya yang terlalu tinggi,” tutur Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur Zainuddin Maliki.

Ditegaskan, untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua masyarakat Indonesia, pemerintah wajib menyediakan sarana dan prasarana, membiayai guru yang berkompeten, serta kepala sekolah yang punya kemampuan manajerial dan visi yang baik. Pendidikan bermutu semestinya bisa dinikmati semua anak Indonesia secara merata. Jangan “hanya RSBI dan SBI yang jadi proyek uji coba (pilot project). Karenanya, pemerintah harus bersungguh-sungguh mengalokasikan anggaran pendidikan.

Sumber: Surabaya Post

Football News

 

© Copyright surabaya view 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.