BThemes

tes
News Update :

Moto GP News

Basketball News

Formula 1 News

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kisah Pejuang Pendidikan SM-3T Unesa; Namanya Rizki Sugiarto

29 Jan 2012

Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan akan tiba di tempat ini. Desa Ramuk, kecamatan Pinupahar. Tempat di mana seorang gadis bernama Rizki Sugiarto, salah seorang peserta SM-3T Unesa, ditugaskan. Namanya yang seperti nama laki-laki itulah yang telah 'mengecoh' kepala sub TK-SD Kantor Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Dinas PPO) Sumba Timur, sehingga dia harus 'nrimo' ditugaskan di SD yang sangat-sangat terpencil. Sendirian. Jika Kasub TK-SD tahu bahwa dia sebenarnya berjenis kelamin perempuan, dia mungkin tidak akan ditugaskan di tempat seperti ini.

Saya menerima sms Rizki sekitar tiga minggu yang lalu, sehari setelah kami melakukan supervisi di semua kecamatan. Smsnya masuk sekitar pukul 21.00 WIB (pukul 22.00 WITA). 'Ibu, saya Rizki. Saya ditugaskan di SD Ramuk, kecamatan Pinupahar. Ibu, tempat saya sangat jauh dari kecamatan. Saya harus berjalan melintasi bukit dan menembus hutan serta menyeberangi banyak sungai, jika saya akan ke kecamatan, dengan jarak tempuh lebih dari 5 jam. Makanya ketika ada supervisi tempo hari, saya tidak bisa menemui ibu di kecamatan. Ibu, sebenarnya saya sangat berat meninggalkan kepala sekolah, guru-guru, dan murid-murid saya di sini. Tapi saya tidak yakin saya kuat tinggal di sini.'

Intinya, Rizki meminta saya untuk mengusulkan ke dinas PPO supaya dia dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan kecamatan Pinupahar. Tapi di sisi lain, dia merasa sangat berat meninggalkan sekolahnya. Saya merasakan ada pergumulan dalam batinnya. Antara tetap tinggal, dan keraguannya untuk bisa bertahan. Saya membesarkan hatinya: 'Rizki, kalau aku jadi kamu, maka aku akan terus berusaha bertahan, demi anak-anak, demi sekolah, dan demi masyarakat desa Ramuk yang sudah terlanjur berharap banyak kepadamu. Kamu bisa memberi banyak manfaat bagi mereka. Coba pertimbangkan itu....' Tapi malam itu, Rizki tetap pada keputusannya, minta dipindahkan.

Besok paginya, sms Rizki masuk lagi di ponsel saya. 'Ibu, kalau memang tidak memungkinkan, saya tidak apa-apa tidak dipindahkan. Saya akan terus berusaha bertahan di desa Ramuk.'

Berhari-hari setelah itu, saya tidak pernah lagi menerima sms Rizki. Namun beberapa temannya yang justeru bersms ke saya. Menyampaikan keprihatinan mereka pada kondisi Rizki dan tempat tinggalnya. Dia tinggal sendirian di aula sekolah. Tanpa listrik. Pernah suatu hari, Rizki mendapati gembok pintu aula tempatnya tinggal seperti dicongkel orang. Malam hari, beberapa kali dia mendengar seseorang atau 'sesuatu' mengetuk-ngetuk pintu. Karena prihatin dengan kondisi Rizki, hampir seminggu dua kali, teman-temannya yang ada di desa Umandudu (desa yang terletak di atas desa Ramuk, bisa ditempuh sekitar 2 jam dengan berjalan kaki), bergantian menemaninya.

Kondisi itulah yang membuat saya memutuskan untuk menjangkau tempat Rizki. Selain itu juga saya merasa tidak fair kalau saya tidak tahu di mana tempat tugas para peserta SM-3T. Ketika kita menugaskan seseorang, maka seharusnya kita tahu seperti apa tempat mereka bertugas tersebut. Seperti itu jugalah pendapat bapak Rektor.

Maka sejak kemarin, di tengah perjalanan menuju Pinupahar (setelah menyusur Katala Hamulingu dan Tabundung, dua kecamatan sebelum Pinupahar), saya meminta pak Camat Pinupahar untuk mengusahakan 5 buah motor yang bisa mengantarkan kami ke Ramuk, dan mungkin sampai ke Umandudu. Waktu itu saya belum bisa memastikan berapa yang akan berangkat ke sana. Dalam rombongan kami ada pak Rektor, mas Amin (sekretaris rektor), mas Rukin, mas Bimo (humas Dikti), mbak Arifah (PIH Dikbud), Andra (admin SM-3T yang selalu membantu saya), dan dua crew Trans TV (Peter dan Fariz), serta Joko (peserta SM-3T yang bertugas di Umandudu, yang khusus turun ke Waingapu untuk mendampingi kami). Tapi saya punya keyakinan pak Rektor akan berangkat, begitu juga mas Rukin. Mas Amin juga berangkat, karena dia harus selalu mendampingi pak Rektor. Joko juga pasti ikut, karena Umandudu adalah lokasinya. Paslah. Tapi malam itu, setibanya kami di Pinupahar dan berembug tentang siapa yang akan berangkat ke Ramuk dan Umandudu, pak Rektor meminta mas Bimo juga sebaiknya ikut. Maka pak camat harus mencarikan sebuah motor lagi malam itu juga. Trans TV dan PIH Dikbud memutuskan tidak berangkat. Mereka akan fokus membuat profil peserta SM-3T, siswa, sekolah, guru, kepala sekolah, masyarakat, dan lingkungan alam di sekitar desa Tawui yang luar biasa indah, dengan pantai dan hamparan lembah dan bukit-bukitnya yang tinggi menjulang. Selepas makan malam di rumah pak Camat, ketika kami beristirahat di rumah panggung bermenara khas Sumba, orang-orang media itu bekerja lembur di mess peserta SM-3T yang sempit, membuat script, mewawancarai beberapa peserta, dan mengolah hasil rekaman mereka seharian tadi.

Kami berangkat dari Tawui, desa terdekat di Kecamatan Pinupahar, setelah pertemuan dengan camat, kepala desa, kepala sekolah, guru-guru, dan peserta SM-3T, dalam rangka pengisian instrumen monev serta menggali berbagai persoalan di lapangan. Pak Camat melepas kami dengan bekal makan siang yang sudah disiapkan oleh ibu camat. Dua mobil yang kami sewa mengantar kami menuju Lelunggi, desa yang masih bisa dijangkau dengan mobil. Kami diantar di bibir sungai, dan di seberang sungai yang cukup lebar itu, enam sepeda motor bersama pengendaranya sudah menunggu kami. Driver kami, mas Oscar, begitu mengkhawatirkan saya. Dia memaksa saya membawa payung yang ada di mobilnya karena dia pastikan saya akan memerlukan payung itu. Sebenarnya saya enggan membawanya, tapi saya tidak sampai hati menolaknya. Akhirnya Jokolah yang kuminta membawakan payung itu (tapi ternyata malah 'hilang' karena ketinggalan di suatu tempat ketika kami beristirahat di tengah perjalanan menuju desa Ramuk).

Itulah sungai pertama yang kami seberangi. Meskipun tidak terlalu dalam, namun arusnya cukup deras. Pak Rektor yang sudah ada di seberang berteriak ke Joko supaya menggandeng saya yang sudah 'nyemplung' ke sungai siap menyeberang. Pak Kepala Sekolah SD Okatana (Okatana, desa yang juga akan kami singgahi), juga langsung menangkap tangan saya, membantu mencapai Joko. Dan terjadilah momen 'yuyu kangkang menyeberangkan kleting kuning' itu (versi mas Rukin; kebetulan saya berjaket kuning, dan Joko berkalung kain Bali berwarna hijau).

Itu adalah sungai pertama. Setelah itu ada delapan sungai lagi yang harus kami 'langgar' (istilah orang Sumba). Selebihnya adalah jalan setapak, berbatu-batu terjal. Berlubang-lubang penuh kubangan, berlumpur, naik-turun, berkelok-kelok tajam, dan jurang-jurang menganga di sisi kiri-kanan. Saya melihat jurang-jurang yang hanya berjarak sekitar satu meter dari jalan setapak itu dengan 'gagah berani'. Saya tidak mau membayangkan sepeda motor yang saya tumpangi terpeleset lalu tergelincir masuk jurang. Saya mengandalkan pikiran positif, doa dan sholawat yang terus saya gumamkan, serta kelihaian petugas kecamatan mengendalikan motor yang dikendarainya. Tak terhitung berapa kali kami yang dibonceng harus turun karena motor tidak kuat naik saking curamnya. Suaranya meraung-raung mengingatkan saya pada tontonan tong setan di mana seseorang mengendarai sebuah motor berputar-putar dalam sebuah 'tong' besar. Namun itu hanyalah sebuah tontonan. Sedangkan yang terjadi saat ini adalah benar-benar sebuah kenyataan. Kami sedang berada dalam kondisi dimana kami semua berkendara dengan kegilaan yang melebihi tong setan itu... Lebih-lebih bila kami baru saja 'melanggar' sungai, maka semua pengendara akan bersama-sama menarik gas sekuat-kuatnya untuk memastikan air sungai tidak mengganggu mesin motor. Raungannya yang keras memekakkan telinga, memecahkan kesunyian di tengah hutan belantara.

Selepas dari SD Okatana yang bisa kami capai dalam waktu sekitar 30 menit, pada pukul 13.00, kami berangkat menuju Ramuk. Perjalanan menuju Ramuk jauh lebih menegangkan. Betul-betul menguras emosi dan adrenalin. Saya suka berpetualang, tapi saya sungguh tidak pernah membayangkan saya akan melakukan petualangan segila ini. Namun hati saya menangis sepanjang perjalanan itu. Teringat sms-sms Rizki dan teman-temannya. Joko sudah sering menyampaikan seperti apa lokasi tempat dia dan Rizki ditugaskan, namun saya tidak menduga, lokasi tersebut begitu sulitnya untuk dicapai. Dan Rizki, anak gadis itu, ada di sini. Di tengah hutan belantara. Sendirian. Tanpa listrik. Tanpa teman untuk berbagi. Sempat mengeluh dan minta pindah, namun secepat itu pula dia mencabut keputusannya, dan memastikan untuk tetap bertahan. Betapa luar biasanya anak itu......

Sekitar satu kilometer dari tempat Rizki, kami semua berhenti di sebuah mata air di pinggir jalan. Semua mencuci muka dengan air yang luar biasa segar dan jernih itu. Saya berwudhu. Seperti kemarin ketika di perjalanan menuju Pinupahar, di mana saya sholat di tengah hutan, di pinggir jalan, saya berniat melakukan sholat jama' takdim dhuhur ashar, namun segera saya urungkan karena tempat Rizki sudah dekat, artinya saya masih bisa mengejar waktu sholat.

Dan sampailah kami di SD Ramuk yang catnya sudah kusam serta bangunanya yang sangat sederhana. Rizki tinggal di aula SD itu. Pintu aula dalam keadaan tertutup ketika kami datang. Joko mengetuk pintu dan memanggil nama Rizki. Begitu pintu dibuka, muncullah tubuh mungil itu. Seperti tidak percaya dia menatap saya. Tangan saya langsung terkembang dan memeluknya. 'Kamu luar biasa, Ki. Kamu kuat, Ki...' Suaraku tertahan-tahan karena menahan tangis. 'Ya, ibu, saya harus kuat, saya harus kuat...' Matanya basah. Dan setengah berdesis dia berbisik di telinga saya. 'Tapi beri saya teman, ibu, saya butuh teman.....'. Saya mengangguk dan memastikan dia akan saya carikan teman. Sedetik kemudian saya melepaskan pelukan saya dan membiarkan pak Rektor, mas Rukin, mas Bimo, dan mas Amin, menyalami Rizki dengan tatapan haru sekaligus takjub. Dada saya semakin sesak menahan emosi, dan saya bilang ke Rizki, kalau saya sudah berwudhu dan mau numpang sholat. Anak manis itu segera menyilakan kami semua masuk. Pak rektor dan yang lain duduk di tikar di dalam aula itu. Rizki membawa saya ke 'kamar'nya, tentu saja ada di ruangan itu juga, hanya disekat dengan sebuah papan dan lemari plastik yang sudah koyak. Digelarnya sajadah untuk saya di tempat sholat yang sekaligus menjadi tempat tidurnya itu, di lantai kusam beralas tikar. Sebuah al-Quran yang mungkin menjadi temannya melewati malam-malamnya dalam kesendirian, tergeletak di dekat bantalnya. Meskipun semuanya serba terbatas, nampak sekali kalau Rizki menyukai kerapian.

Dan di atas sajadah Rizki, saya menyungkurkan kepala dan menangis sepuasnya. Tangis yang sudah saya tahan sejak tadi, pecah. Ketabahan perempuan muda itu mengoyak-ngoyak perasaan saya. Semangat pengabdiannya mencabik-cabik hati. Ketulusannya membuat emosi saya runtuh. Bahkan saya saja tidak yakin akan mampu melewati hari-hari saya dalam keadaan serba terbatas seperti ini. Tanpa teman. Dalam gelap yang hanya diterangi oleh sebuah pelita. Dalam ruangan besar yang jauh dari tetangga. Tidak ada TV, tape, radio, toko dan warung. Tidak ada alat transportasi apa pun, kecuali mau berjalan berjam-jam untuk mencapai tempat dimana ojek atau oto bisa dicapai.

Maka meluncurlah doa-doa saya siang itu khusus untuk Rizki. Saya mohonkan pada Allah agar ditambahkan kekuatan dan ketabahan baginya. Kemudahan untuknya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya. Kemaslahatan bagi anak-anak didiknya, guru-guru, sekolah, masyarakat, karena kehadirannya. Dan keberhasilannya dalam mencapai cita-cita mulianya, menjadi guru. Rizki Sugiarto, gadis itu, insyaallah akan menjadi guru hebat dan luar biasa yang sudah teruji oleh alam....

Pinupahar, 27 Januari 2012
* Penulis adalah dosen, guru besar, dan korlap SM-3T Universitas Negeri Surabaya

Ujian Ulang, Guru Sertifikasi Girang

25 Jan 2012

Perjuangan para guru yang tak lulus sertifikasi di rayon 114 Unesa membuahkan hasil. Setelah berkali-kali beraksi dan kini meminta dukungan PGRI, Dewan Pendidikan, Dinas Pendidikan, dan Ombudsman, mereka yang tak lulus PLPG 2011 lalu berkesempatan mengikuti ujian ulang.

Keputusan itu diperoleh setelah sepuluh perwakilan guru melakukan audiensi bersama lembaga pendukung dengan Unesa. Unesa selaku penyelenggara sertifikasi dengan sistem PLPG menjawab tuntutan para guru untuk ikut ujian sertifikasi ulang.

“Keputusannya, sebanyak 94 guru PLPG kita beri kesempatan ujian ulang. Mereka akan mengikuti ujian PLPG bersama peserta 2012. Jadi mereka bersaing bersama angkatan tahun ini. Keputusan ini yang akan kita usulkan ke Kemendikbud,” kata PR 1 Unesa, Prof Kisyani Laksono usai pertemuan sore tadi.

Unesa akan mengimplementasikan keputusan tersebut dengan memfasilitasi peserta PLPG yang tak lulus. Namun, kampus ini hanya sebatas mengusulkan solusi tersebut. Jika tawaran solusi itu tak dikehendaki Kemendikbud, para guru itu harus mau menerima.

Dikatakan Kisyani, ketidaklulusan guru PLPG secara nasional cenderung tinggi tahun 2011. Sekitar sepuluh persen. Itu terjadi di UM Malang, UPI Bandung sampai UNY Yogyakarta. Banyak guru yang protes karena tak lulus.

Meski demikian, guru peserta PLPG dan Unesa sepakat mencari solusi. Yang ditawarkan adalah meneruskan keputusan itu ke pusat. Sebanyak 94 guru akan mengikuti ujian ulang.

Surya

SNMPTN 2012 Sumbang 60 Persen Mahasiswa PTN

20 Jan 2012

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 akan menyumbang 60 persen dari jumlah seluruh mahasiswa yang masuk ke masing-masing perguruan tinggi negeri di Indonesia, kata Musliar Kasim Wakil Menteri Pendidikan Bidang Pendidikan.

"Saya apresiasi kepada seluruh rektor PTN yang mengikuti Peraturan Menteri nomor 34 tahun 2010 yang menetukan setiap PTN harus mengambil setiap mahasiswanya melalui jalur SNMPTN ini minimal 60 persen," kata Musliar seperti dilansir Antara, Jumat (20/1/2012).

Musliar menjelaskan sebesar 20 persen mahasiswa diseleksi melalui undangan dan ujian tertulis minimal 40 persen.

Dia juga menjelaskan bahwa tidak akan ada penerimaan mahasiswa PTN yang mendahului SNMPTN, tidak seperti SNMPTN pada tahun-tahun sebelumnya dimana beberapa PTN melakukan seleksi ujian masuk universitasnya secara mandri mendahului SNMPTN.

Selain itu Musliar juga menyatakan bahwa terdapat 30 ribu beasiswa bagi mahasiswa yang tidak mampu namun memiliki prestasi pendidikan yang tinggi.

"Sepanjang sudah lulus dan tidak mampu maka bisa memperoleh beasiswa sehingga tidak ada orang yang mampu secara akademik yang tidak bisa kuliah, ada 30 ribu beasiswa" ujar Musliar.

Beasiswa tersebut akan diberikan kepada mahasiswa setiap bulan untuk biaya hidup dengan besaran pada tahun-tahun sebelumnya sekitar 600 ribu per bulan dengan total sekitar 12 juta per mahasiswa setiap tahunnya.

"Jadi SPP dan biaya apa pun bagi mereka yang mendapat beasiswa itu tidak membayar sama sekali dan besarannya tergantung kepada masing-masing universitas," kata Musliar.

Program beasiswa Bidikmisi merupakan beasiswa yang disediakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagi para calon peserta Bidikmisi harus mendaftar ke laman http://bidikmisi.dikti.go.id dan yang dinyatakan memenuhi persyaratan akan mendapat Kode Akses Pendaftaran (KAP) dan Personal Identification Number (PIN).

Siswa yang mendapat KAP dan PIN dapat segera mendaftar serta mengisi biodata melalui laman http://undangan.snmptn.ac.id bagi mereka yang direkomendasikan kepala sekolah untuk ikut jalur undangan. Namun untuk yang mengikuti jalur ujian tertulis dapat mengisi biodata di alamat http://ujian.snmptn.ac.id tanpa harus membayar biaya ujian.

Jika calon peserta Bidikmisi tidak memenuhi persyaratan atau tidak diterima seleksi jalur undangan maka KAP dan PIN dapat digunakan kembali untuk mendaftar SNMPTN jalur ujian tertulis tanpa harus membayar ujian. Untuk keterangan lebih lanjut peserta dapat melihatnya di www.snmptn.ac.id. (ant/ipg)

suarasurabaya

Laskar Pelangi the Series Menanamkan Kebohongan

8 Jan 2012


Laskar Pelangi. Film ini sukses menarik publik karena banyak hal. Salah satunya adalah film ini menyuguhkan pengajaran nilai-nilai kejujuran lebih dari segala-galanya.

SCTV rupanya ingin mengulang "sukses" menserikan film "nirina-aming". Laskar Pelangi (Langi) The Series pun dibuat. Beberapa kali dipromosikan dan membuat saya tertarik untuk menontonnya.

Seri perdana diputar. Saya "menikmatinya" dengan kening berkerut. "Beginikah Laskar Pelangi." Saya menonton filmnya. Tetapi saya nyaris tak menemukan ruhnya. Kecuali sd muhammadiyah gantong yang reot dan anak-anak belitong yang polos.

Serial ini menampilkan anak-anak belitong asli. Lokasinya sama dengan lokasi pada film. Juga properti dan latar belakang budayanya, bahasa, pakaian dan banyak lainnya. Bu Muslimah diperankan artis yang sehari-hari main di FTV sctv. Ikranegara, gunawan, gito gilas juga turut serta memperkuat daya tarik.

Di edisi perdana, saya berharap Langi akan menjadi semacam "keluarga cemara." Tontonan keluarga yang sarat nilai-nilai pendidikan. Sayang saya tidak bias mengikutinya dengan rutin saban hari.

Saya baru nonton kembali Langi pada sabtu ini. Langi sudah memasuki episode 13. Episode yang kabarnya akan segera berakhir kaena sctv akan mengganinya dengan sinetrn baru: impian garuda.

Saya tersentak menyaksikan setiap adegan pada episode 13. Di episode ini, nilai-nilai kejujuran, amanah, tanggung jawab, menghormati guru, seperti rumput tumbuh di batu cadas. Nilai-nilai kebohongan dan ingkar justru subur bak jamur di musim hujan.

Ikal harus berbohong pada Kepsek karena lebih memilih berpihak pada cintanya ke Aling. Ikal jga lebih memilih merahasikan surat cintanya pada Bu Sum daripada menuruti nasihatnya. Ikal tidak patuh lagi pada bu guru yang begitu dihormatinya (apalagi dalam setting jaman itu). Ikal dan temannya lebih memilih menuruti kepentingan dirinya daripada melaksanakan amanah dan bertanggung jawab pada
tugasnya. Amanah tidak dilaksnakan. Diberi kepercayaan justru ingkar.

Bibit kebohongan sejatinya juga muncul di edisi perdana. Ketua kelas SD Muhammadiyah berbohong pada Bu Muslimah. Dia bahkan merekayasa kebohongan ketika Bu Muslimah menanyakan keberadaan Harun. Bu Muslimah bahkan mendapatkan kakus kosong meski dia mendengar suara gemericik air dari dalam seolah-olah Harun ada di dalam. Anak- anak Langi berhasil mempedaya Bu Mus. Merekayasa kebohongan.

Langi The Series seperti lahir dari ruang hampa. Ia hadir hanya membawa baju tapi menanggalkan ruhnya. Akhirnya Langi the series tidak hanya "mati" tetapi berbalik menjadi serial yang dipenuhi nilai-nilai negatif yang seharusnya tak diajarkan.

Pada episode 13, Langi mempertontnkan adegan yang menggelikan. Ketika Pak Cik (ayahanda/diperankan ikranegara) meninggal dunia, ada tiga kejanggalan serius.

1. Bu Mus mendapati Pak Cik meninggal dan apa yang diktakan Bu Muslimah. Sambil kaget dia bilang "astaghfirullah." Kalimat ini seolah "kelatahan" penulis sinetron "islam." Apapun peristiwanya, selalu "astaghfirullah" responnya. Seharusnya "innalillahi wainna ilaihi rojiuun."

2. Ada adega pembacaa surat yasin bersama sama di rumah pak cik. Bagi warga muhammadiyah, adegan ini menggelikan karena nggak pernah diajarkan oleh muhammadiyah.

3.Tetangisan di depan jenazah. Ini juga amat menggelikan sekaligus memprihatinkan. Muhammadiyaah nggak pernah mengajarkan paham seperti ini. Tidak usah dilihat dari sisi ideologi, dari setting sekolah dan budaya saja, adegan ini seolah-olah turun dari langit secara tiba-tiba. Sama sekali tidak kontekstual. Ini kesalahan serius dan fatal.


Yang juga lucu meski tak fatal adalah Pak Cik tidak langsung ditolong tapi dibiarkan tergeletak di meja, sambil menunggu para pemain lainnya, satu per satu, mengetahui.

Harapan mendapat tontonan bermutu kandas lagi. Seri sinetron ini bakal segera diganti Garuda Impian (atau Impian Garuda ya). Semoga sinetron penggantinya lebih baik.

Laskar Pelangi The Series sebenanya bisa diharapkan menjadi tontonan bagi keluarga yang menarik. Sayang jika di "ronde-ronde" awal sudah keddran seperti ini, seri ini memang layak diganti. Tentu saja ini portofolio kurang bagus bagi sctv dan khususnya bagi "laskar pelangi."

Jakarta, januari 2012
Habe Arifin
Revolusi Putih: mengganyang kebodohan, mencerdaskan bangsa

Ingin Anak Sukses di Sekolah? Ajarkan Rutinitas!

5 Jan 2012


Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa mengajari anak untuk memiliki rutinitas bisa membuatnya sukses di sekolah. Rutinitas di sini misalnya, anak memiliki waktu makan dan tidur yang teratur.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Prince's Trust, sebuah lembaga amal dari Inggris yang berdiri sejak 1976. Dalam penelitian tersebut mereka meneliti 2.136 anak muda berusia 16-25 tahun.

Dalam penelitian itu terungkap 10 murid yang gagal berprestasi di sekolah (setidaknya memiliki lima nilai C), tidak punya waktu tidur yang sama. Anak-anak muda dengan nilai sekolah lebih rendah juga tidak memiliki waktu makan yang rutin.

"Tidak adanya rutinitas dalam kehidupan anak muda bisa memberikan dampak yang mengecewakan. Tanpa adanya dukungan yang baik, remaja yang tidak punya arah ini bisa jadi remaja yang tidak terurus, tidak percaya diri, tidak berkualitas dan tak punya pekerjaan," ujar Chief Executive Prince's Trust Martina Milburn seperti dikutip Telegraph.

Penelitian Prince's Trust juga menemukan 1/4 dari anak-anak muda yang disurvei ternyata tidak pernah mengatur waktu tidur mereka. Hasil temuan penelitian itu pun sejalan dengan keluhan para guru di Inggris. Para guru mengeluh kini semakin banyak anak-anak yang terlihat terlalu lelah untuk berkonsentrasi saat belajar karena malam sebelumnya mereka menonton televisi atau main games di komputer.

Memang salah satu hal tersulit adalah mengajari anak untuk memiliki waktu tidur yang sama atau jam tidur teratur. Tapi bukan berarti Anda menyerah dan tak mencoba melakukannya.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti dikutip dari kidshealth:

1. Langkah pertama agar anak mau pergi tidur tanpa banyak keributan adalah dengan membuat rutinitas. Saat anak tidur di waktu yang sama setiap harinya, tubuh mereka akan beradaptasi dan mereka akan mengantuk dengan mudah.

2. Sangat penting untuk membatasi kegiatan yang menstimulasi mental dan fisiknya seperti menonton televisi, bermain komputer atau permainan yang melibatkan fisik. Usahakan anak-anak tidak melakukan kegiatan tersebut beberapa jam sebelum mereka tidur. Kegiatan yang lebih menenangkan seperti membaca, menggambar adalah pilihan yang lebih baik.

3. Salah satu cara membuat anak mood untuk pergi tidur adalah dengan membacakan mereka cerita atau memperdengarkan musik yang lembut. Kegiatan ini selain menenangkannya, juga membuat anak terbiasa di otak mereka kalau dengan melakukan aktivitas tersebut artinya sudah waktunya tidur.

4. Pastikan anak merasa nyaman sepanjang malam, misalnya dengan meletakkan mainan favoritnya di tempat tidur atau benda-benda lainnya yang ia sukai.

5. Pakaian yang dikenakan anak selama tidur juga harus nyaman, jangan terlalu ketat, panas dan tipis.

6. Begitu anak sudah berada di tempat tidurnya dan terlihat mulai mengantuk, tinggalkan kamarnya. Biarkan anak belajar untuk tertidur sendiri tanpa bergantung pada kehadiran orang tuanya.(eny/eya)

wolipop.com

Tanamkan Optimis di Awal Tahun Jauhkan Stroke & Serangan Jantung

3 Jan 2012


Jika mengalami banyak kegagalan di tahun sebelumnya, segeralah lupakan dan tatap masa depan dengan optimisme. Tak hanya membuat pikiran menjadi lebih tenang, sikap optimistis terbukti menjauhkan risiko stroke dan sakit jantung.

Kebimbangan sering datang di awal tahun karena harapan-harapan baru sudah harus mulai diperjuangan, sementara bayang-bayang kegagalan di tahun sebelumnya belum benar-benar bisa dilupakan. Karena itulah, beberapa orang mengawali tahun baru dengan pesimistis.

Sikap pesimistis merupakan sikap negatif yang akan sangat menyita pikiran, sehingga dapat memicu stres. Bukan cuma berdampak pada kesehatan psikologis, stres juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik terutama berkaitan dengan fungsi jantung dan pembuluh darah.

Untuk mengatasinya, sikap pesimistis harus dibuang jauh-jauh dan secara perlahan diganti dengan sikap optimistis. Betapapun sulitnya target dan resolusi yang ditetapkan untuk setahun ke depan, pikiran harus selalu menyikapinya dengan cara yang positif agar tidak stres.

Sebuah penelitian di University of Michigan pernah mengungkap, sikap optimistis bisa menjauhkan seseorang dari risiko stroke baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak. Tiap peningkatan satu derajat optimisme, risiko stroke berkurang 0,9 kali.

"Penelitian menunjukkan optimisme memegang peran penting dalam melindungi orang dewasa dari risiko stroke," kata Eric Kim, ilmuwan yang melakukan penelitian tersebut dan melaporkan hasilnya di jurnal Stroke seperti dikutip dari CBC News, Selasa (3/1/2012).

Sementara itu penelitian lain di Duke University membuktikan, pribadi yang selalu optimistis memiliki risiko serangan jantung 30 persen lebih rendah dibanding orang pesimistis. Dengan sendirinya, orang yang optimistis memiliki peluang lebih besar untuk berumur panjang.

(up/fat)

detiksurabaya

Lulusan Unesa Siap Berkontribusi Positif

4 Okt 2011

"Wisudawan Unesa Siap Mendukung Pembangunan Karakter Bangsa" Itulah tema yang diusung dalam Wisuda ke-72. Sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Unesa memiliki tanggung jawab besar dalam mengemban amanat untuk mencetak lulusan yang berkarakter dan berkualitas baik sebagai tenaga kependidikan maupun non kependidikan. Dengan segala upaya untuk senantiasa meningkatkan kualitas lulusan, diharapkan Alumni Unesa mampu memberikan konstribusi terhadap pembangunan bangsa.
Dengan moto "Growing with Character", Unesa berupaya senantiasa mampu meluluskan mahasiswa yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkhlak mulia, sebab pintar saja tidak cukup. Butuh sinergi di antara keduanya. Wisuda yang bertempat di GOR Bima Unesa kampus Unesa Lidah Wetan ini dilaksanakan selama dua hari (1-2/10) dibagi dalam tiga gelombang hari Sabtu dua gelombang Minggu satu gelombang.

Jumlah Wisudawan ke-72 ini diikuti 2.131 wisudawan dari 7 fakultas dan 1 Program Pascasarjana, yakni Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), Fakultas Ekonomi (FE) dan Program Pascasarjana (PPs),

Sesuai dengan tema di atas, lulusan Unesa diharapkan bisa mendorong peningkatan karakter bangsa. Saat kembali ke masyarakat, mereka harus sudah siap dan dapat menjadi teladan bagi lingkungannya dimana mereka berada, baik dalam hal keilmuan maupun tingkah lakunya. (Humas Unesa)



Puluhan Anak di Jatim akan Belajar di AS

18 Jun 2011


Sebanyak 17 anak peserta program Youth Exchange and Study (YES) berkumpul di kediaman Konsul Jenderal Amerika Serikat, Kristen F Bauer di Jalan Untung Suropati Surabaya.

Tujuannya untuk sharing tentang tempat belajar yang akan ditempati selama 11 bulan. Mereka berkumpul untuk minum teh dan berdiskusi bersama sebelum berangkat ke negeri Paman Sam Agustus mendatang.

Setelah melakukan wawancara visa, sekitar pukul 10.00 WIB rombongan tiba di lokasi. Dengan menggunakan pakaian batik, mereka masuk ke dalam dan langsung disambut oleh Krist.

"Hello Everybody...," sapa Krist kepada peserta kunjungan.

Para peserta segera diarahkan ke meja makan yang tersedia berbagai macam hidangan. Mulai cake, donat, kripik apel, teh hangat dan air putih.

Setelah mencicipi berbagai hidangan, kemudian rombongan diajak berdiskusi bagaimana kondisi tempat mereka belajar selama 11 bulan di Amerika Serikat (AS). "Kalian boleh tanya apa saja tentang Amerika, kami akan jawab semua pertanyaan kalian," ujar Krist kepada para rombongan.

Dari pantauan detiksurabaya.com, terlihat para siswa-siswi tersebut antusias untuk bertanya. Tak sedikit gelak tawa yang terlontar di sela-sela tanya jawab. "Saya senang sekali setelah dijelasin tadi, saya jadi gak sabar berangkat ke Amrik," ujar Didin Dwi Novianto, pelajar asal Mojokerto kepada wartawan.

Setelah acara usai, Krist menjelaskan kepada wartawan bahwa kegiatan seperti ini telah dimulai tahun 2003 lalu. Sebanyak 400 pelajar sekolah umum maupun pesantren dari seluruh Indonesia telah mengikuti program ini.

"Kegiatan ini berguna untuk Indonesia dan Amerika, dimana kita bisa saling belajar satu sama lain," terangnya.

Krist menambahkan mereka akan menemukan berbagai keunikan di AS, salah satunya komunitas AMISH yakni orang-orang yang membatasi diri dengan penggunaan teknologi modern seperti telepon dan mobil. "Mereka nanti akan bertemu dengan kelompok AMISH yang menunjukkan gaya 1800-an," tambahnya.

Acara kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta diskusi. Nantinya peserta YES yang akan berangkat sebanyak 70 anak. Selain Indonesia, beberapa negara yang juga mendapat beasiswa serupa adalah Mesir, Malaysia, Filiphina, Turki, India, Saudi Arabia, Ghana dan Thailand. (fat/fat)

Siami Kelelahan, Batal Bertemu Pimpinan MPR

15 Jun 2011


Siang ini pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) direncanakan bertemu dengan Siami dan anaknya, Alif, yang mengungkap kasus mencontek massal di SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya. Namun pertemuan batal digelar karena Siami kelelahan.

"Ditunda karena Ibu Siami kelelahan," ujar Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin, dalam pesan singkat kepada detikcom, Rabu (15/6/2011).

Menurut staf biro humas MPR, kemungkinan pertemuan akan dijadwalkan kembali pada Kamis (16/6) besok. Namun jadwalnya masih tentatif alias belum pasti.

"Masih tentatif karena belum tahu agenda MPR dan agenda Ibu Siami," kata staf biro humas MPR tersebut.

Kemarin, Lukman mengatakan, MPR prihatin dengan kasus yang dialami Siami dan keluarganya setelah mengungkap kasus kecurangan kala ujian nasional (UN) 2011 di SDN Gadel II. Sebab Siami dan keluarganya harus meninggalkan rumahnya untuk mengungsi demi menghindari kemarahan warga.

Warga menuding Siami tidak punya hati karena akibat kejujurannya mengungkap mencontek massal. Kepala sekolah dan dua guru SDN Gadel II/577 Tandes telah diberi sanksi.

MPR ingin mengapresiasi tindakan yang dilakukan oleh orang tua Alif itu. Menurut Lukman, tindakan Siami seharusnya diapresiasi, bukan malah dikucilkan.

"Kita ingin mengapresiasi dia sebagai Ibu Kejujuran. Kalau orang jujur dikucilkan, bangsa ini tidak berkarakter dan implikasi nilai Pancasila semakin bangkrut," kata Lukman.

Sementara itu Mendiknas M Nuh mengatakan, tidak ada indikasi mencontek massal di SND Gadel II. Hal itu terlihat dari pola jawaban peserta ujian di SD tersebut yang tidak identik. Karena kesimpulan penyelidikan menyebut tidak ada contek massal, maka tidak akan digelar UN ulang. Nuh pun menyatakan jika ada guru maupun murid yang bersalah tentu akan diberi sanksi. (detiksurabaya)

Kacau, Nilai UN 26 Siswa Surabaya Raib

16 Mei 2011


Pengumuman kelulusan ujian nasional (UN) 2011 tingkat SMA tingkat SMA/SMK yang dilakukan serempak hari ini, Senin (16/5) menuai masalah. Sebanyak 26 siswa nilainya raib.

Untuk di SMKN 5 Surabaya saja misalnya, 21 siswa sekolah itu tercatat mengikuti semua tahapan UN, ironisnya ketika pengumuman hasil nilainya tertulis nol koma nol (0,0).

“Ini masalah besar. Ini soal teknis yang seharusnya tidak perlu muncul, tiap alur kegiatan UN kan ada berita acaranya jadi secepatnya harus diselidiki dan diusut,” kata Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Prof Zainuddin Maliki saat dihubungi Senin (16/5). Dia menyatakan seluruh pihak penyelenggaran UN harus bertanggung jawab terhadap raibnya nilai 26 siswa di Surabaya. Dispendik perlu untuk menelusuri penyebab hilangnya nilai siswa tersebut. Ia menyesalkan penyelenggaraan UN yang berskala nasional memiliki masalah nilai siswa yang hilang.

Kasus tersebut dinilai sangat menganggu siswa karena siswa sangat berharap untuk bisa mengetahui kelulusannya pada hari ini.“Kalau ada satu saja yang hilang itu artinya sudah tidak beres, lah ini malah ada sampai 26 siswa di Surabaya yang nilainya nol,” katanya.

Ia menduga, arsip nilai siswa tersebut tercecer entah kemana. Yang jelas, kata dia, pihak Dispendik Kabupaten maupun Provinsi diharapkan untuk bertanggung jawab atas hilangnya nilai siswa tersebut. Pasalnya siswa akan merasa sangat terpukul dan kecewa karena merasa mengikuti UN namun mereka tidak mendapatkan nilai.

Abdul Rofiq, Kepala SMKN 5 Surabaya mengatakan, “Kami meminta untuk dilakukan revisi karena kelulusan ini sangat penting. Siswa lulusan kami butuh bekerja sehinga butuh lulus,” katanya. Ia mengaku heran mengapa nilai anak didiknya tidak masuk. Padahal seluruh siswanya mengikuti seluruh tahapan pelaksanaan UN.

Rofiq mencontohkan, diantara siswa yang nilainya kosong adalah Dewi Aisyah. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, nilai siswi ini 00,00. Selain Dewi masih banyak lagi siswa yang lain. Pun demikian dengan nilai UN Mohammad Yusuf juga ditemukan dalam keadaan tak sesuai. Nilai Bahasa Indonesia di UN tertulis 04,00.“Kami heran mengapa nilainya kosong atau tidak sesuai, padahal siswa kami dapat nilai 07,00 tetapi tertulis 04,00,” jelasnya.

Seperti diketahui, SMKN 5 adalah sekolah dengan masa studi empat tahun. Siswa yang nilainya tidak keluar sebenarnya sudah menempuh UN pada tahun lalu. Pada tahun ini, kata dia, siswa hanya melakukan ujian praktik dan teori. Ujian tersebut masuk nilai sekolah. Namun untuk kelulusan, nilai UN harus digabung dengan nilai sekolah.“Padahal nilai UN sudah ada, dan sekarang ini tinggal menggabungkan saja nilai UN dengan nilai sekolah. Tapi kok malah tidak terdaftar, ini kan aneh,” katanya.

Sementara itu, Dispendik Kota Surabaya menyatakan kemungkinan nilai siswa yang nol karena tidak masuk dalam ketika dilakukan entry data. Kepala Dispendik Kota Surabaya, Sahudi menyatakan Dispendik menemukan 26 siswa yang mendapatkan nilai nol. Dari 26 siswa tersebut 23 diantaranya siswa SMK dan 3 siswa lainnya adalah siswa SMA swasta.

Sahudi menjelaskan, alur entry data penilaian untuk siswa SMA/SMK adalah pihak sekolah memasukkan data penilaian siswa di sekolahnya. Data tersebut kemudian dikirimkan ke Dispendik Kota Surabaya. Dari Dispendik Surabaya diteruskan ke Dispendik Jawa Timur. Kemudian dikembalikan lagi ke Dispendik Kota Surabaya, namun ternyata ada 26 siswa yang nilainya tidak masuk dalam ‘entry data’ alias bernilai nol.

Menurut Sahudi, ada beberapa penyebab nilai nol untuk siswa dalam UN, yakni diduga nilai UN tidak masuk bukan karena tidak dimasukkan, tapi hanya tidak masuk dalam data entry, sehingga mungkin saja nilai itu merupakan nilai susulan dan lupa dimasukkan.

Pernyataan serupa juga muncul dari Kepala Dispendik Jatim, Harun. Dia juga mengaku tidak mengetahui atas kasus nilai siswa yang hilang. “Kasus ini langsung saya koordinasikan dengan Puspendik di Jakarta. Mereka akan mengecek kasus ini,” ujarnya.

Restui Konvoi

Terkait konvoi, Dispendik Jatim menyatakan tidak melarang pelajar untuk melakukan aksi konvoi. Namun, Dispendik menghimbau kepada pelajar untuk melakukan konvoi secara tertib dan tidak menganggu ketertiban umum.

“Kami tidak melarang konvoi pelajar, namanya anak muda itu biasa. Tetapi pelajar kami himbau untuk tetap tertib dan tidak menganggu ketertiban,” kata Harun, Kepala Dispendik Jatim, Senin (16/5).

Dispendik juga meminta kepada siswa yang melakukan konvoi untuk tetap mematuhi peraturan lalu lintas. Kelulusan UN di Jatim sendiri dianggap cukup memuaskan. Rinciannya ketidaklulusan di Jatim untuk SMA hanya 0,25% atau setara 559 siswa. Sedangkan untuk SMK hanya 0,10% siswa yang tidak lulus atau sebanyak 150 siswa.

Harun berharap siswa tidak melakukan aksi corat-coret ketika merayakan kelulusan. Perlengkapan sekolah berupa seragam, tas, maupun buku sebaiknya diberikan kepada adik kelas ataupun siswa dari kalangan tidak mampu. Ia juga meminta kepada sekolah untuk mengontrol siswanya agar bisa tertib.

Terpisah, Kasubdit Kerma Ditbinmas Polda Jatim, AKBP Ria Damayanti menyatakan tahun ini perayaan kelulusan dengan melakukan konvoi mendapatkan restu dari Kapolda. Namun, pihak kepolisian menyatakan kepada Dispendik masing-masing Kabupaten/Kota untuk mendaftar sekolah yang siswanya akan melakukan konvoi.

“Sesuai arahan Pak Kapolda, silakan konvoi, tapi pihak sekolah lapor dulu. Kemudian kami akan mengawal dan mengamankan jalannya konvoi tersebut hingga selesai,” terangnya.

Polrestabes Surabaya sendiri menerjunkan 334 personil untuk melakukan pengawalan di sejumlah titik. Personil gabungan itu nantinya terdiri dari 201 personil dari polsek se-Surabaya dan 143 personil dari lantas Polrestabes Surabaya. Seluruh personil tersebut nantinya akan dibagi dalam beberapa Sub Rayon.

“Kami akan kawal pelajar yang merayakan kelulusan, rencananya kami akan menerjunkan 334 personil,” kata AKP Suparti, Kepala Bagian Humas Polrestabes Surabaya.

Nantinya personil yang dilibatkan untuk pengawalan konvoi akan dibekali buku tilang. Ini karena tidak menutup kemungkinan pelajar tidak mentaati peraturan berkendara seperti tidak memakai helm dan perlengkapan lainnya.

Sementar itu, beberapa jalan yang ‘diharamkan’ untuk dilalui konvoi adalah Jalan Raya Darmo, Urip Sumoharjo, Basuki Rahmad, Gubernur Suryo dan Panglima Sudirman. (surabayapost)

Football News

 

© Copyright surabaya view 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.